Oleh : Rm. Petrus Santoso SCJ
[Red-Joss.com] Kita menerima berkat Pembaptisan sebagai murid Tuhan Yesus dan berkat itu harus dihidupi sebagai kesaksian kita sebagai murid-Nya.
Sebagaimana sudah kita hayati, bahwa melalui Pembaptisan yang telah kita terima (dewasa atau bayi) itu, kita mendapatkan rahmat ini:
- Diterima menjadi anggota Gereja yang Satu, Kudus, Katolik dan Apostolik.
- Kita menjadi manusia baru (ditandai dengan tambahan nama Baptis, sehingga nama kita menjadi semakin indah, cantik, dan istimewa).
- Kita diangkat menjadi anak-anak Allah.
Itulah sebabnya pembaptisan yang kita terima itu sebagai tanda, meterai yang kekal sifatnya, permanen dan tidak akan pernah hilang.
Sungguh-sesungguhnya kita telah menjadi milik Tuhan secara spiritual-rohani, dibalut dalam kekudusan Ilahi, dirahmati dengan buah-buah Roh Kudus, dan dibekali dengan karunia-karunia kebijaksanaan yang menuntun hidup kita pada pertumbuhan rohani yang semakin matang, dewasa, dan kuat.
Seiring dengan berjalannya waktu, sebagai murid-murid Tuhan Yesus, kita terus memuji (Liturgia), mewartakan (Kyrigma), bersekutu (Koinonia), melayani (Diakonia), dan bersaksi (Martyria).
Semuanya itu kita berguru kepada Tuhan Yesus sendiri.
Lihatlah! Pada saat Yesus dibaptis oleh Yohanes Pembaptis di Sungai Yordan, langit terbuka dan suara dari surga diperdengarkan. Ini menjadi pertanda, bahwa Pembaptisan yang telah kita terima ini, sekali lagi tanda dari surga yang diberikan melalui Gereja-Nya untuk kita masing-masing.
Kita bangga menjadi orang Katolik. Kita syukuri dengan damai, dan kita hidupi dengan kesungguhan hati. Kita menjadi murid Tuhan Yesus itu jangan setengah-setengah dan sekadar untuk melengkapi administrasi, tapi secara totalitas!
Rm. Petrus Santoso SCJ
foto ilustrasi : Istimewa

