Oleh : Jlitheng
[Red-Joss.com] Perjumpaan iman juga dapat terjadi secara virtual. Seperti pengalaman saya dengan keluarga NA. Seorang jurnalis, dosen, dan Ibu rumah tangga.
Temu darat belum pernah, namun secara virtual kami sering berbincang. Bercerita bukan hanya sebatas tugas, tapi juga diri, bahkan keluarga, termasuk tentang anak perempuan kecilnya.
Perjumpaan saya dengan seorang anak perempuan berkulit terang, terjadi secara virtual, saat melihat video pendek yang dikirim Ibunya kepadaku lewat WA.
Anak perempuan itu sedang berdoa Salam Maria (dalam bahasa Inggris) di depan patung Bunda Maria, sepertinya di sebuah ruang doa keluarga. Di belakangnya terdengar suara sayup yang menjawab doa anak perempuan tadi.
Usai doa, anak itu mengambil satu botol kecil, sepertinya berisi air suci, membuat tanda salib di dahinya dan kemudian memercikkan air suci itu kepada yang ada di ruang doa (tak tampak wajah). Kata Ibunya, hal itu dilakukan atas keinginan sendiri. โHatinya baik,โ ujarku
Sebelum tidur, saya teringat peristiwa di video itu dan spontan doaku: Tuhan, siramilah anak itu dengan kasih-Mu. Ada damai di hatinya. Jadikan dia pembawa damai-Mu.”
Benih damai selalu ada dalam diri anak-anak. Apakah akan tumbuh dan berkembang, tergantung cara orangtua memeliharanya.
Children see children do
Jika orangtua saling menyayang, memaafkan, maka jiwa itu akan tumbuh menjadi perilaku damai.
Jika anak melihat kekerasan di antara orangtua, anak akan tumbuh dengan luka batin dan berpotensi jadi berjiwa prmberontak dan pembully yang lain.
Selalu bawalah hati yang dipenuhi damai dan bagikan kepada sanak saudara dan kerabat Anda.
Kendati sederhana tetap berbagi cahaya.
Jlitheng

