Oleh : Rio, Scj.
“Insecuerity kills all that is beautiful.” – Rio, Scj
[Red-Joss.com] Hati tersinggung, karena dianggap tidak penting. Kita baperan, karena selalu jadi omongan. Iri hati, karena tidak diperhitungkan dan disingkirkan. Pikiran pusing, karena beban persoalan. Hidup juga jadi tidak tenang dan nyaman.
Coba simak tulisan Rob Doubley dalam bukunya “The Art of The Good Life.” Semakin kita merasa tidak penting, hidup ini kian terasa tentram dan tenang. Semua itu berbanding terbalik dengan keinginan dan kerinduan banyak orang. Kita bangga, karena berguna. Senang, karena dipuji. Bahagia, karena dilibatkan. Sebaliknya kita jadi salah tingkah, bila dianggap tidak penting. Marah dan baperan, bila jadi bahan gosip, komentar, dan pembicaraan. Atau kita kehilangan harga diri, karena dipandang sebelah mata.
Semua itu tidak masalah, meski kita dianggap penting. Yang utama dan pertama adalah kita tulus terlibat. Bukan mencari pujian, melainkan tulus menebar kebaikan. Harga diri ini tidak terletak pada komentar atau penilaian orang. Melainkan kita ini berharga, karena Tuhan yang menilai dan kita ciptaan-Nya.
Sesungguhnya kita ini istimewa, karena secitra dengan-Nya. Jika sesama menganggap kita sebelah mata, tapi kita tetap berharga di hadapan Tuhan.
Deo gratias.
Edo/Rio, Scj

