Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
“Di mana dan ke mana kita akan berguru?”
Adapun zodiak unik Sagitarius, disimbolkan sebagai ‘sang pemanah’.
Di dalam mitologi Yunani kuno, masyarakat sudah mengenal dan sangat mengidolakan, dewa Kheiron atau Chiron yang artinya tangan.
Kheiron atau Chiron, sang Dewa yang disimbolkan dengan ‘setengah manusia dan setengah kuda,’ simbol kecerdasan, keberadaban, dan kebaikan hati.
Maka, pada masa itu para putra raja-raja pun dikirim untuk berguru pada dewa Chiron, demi menghindari tabiat jahat dewa Centaur, simbol kejahatan.
Begitulah realitas alur sebuah seni hidup, yang senantiasa bersanding / bergulat antara dua buah kutub. Kebaikan dan kejahatan.
Adapun tabiat suci sang pemanah sejati akan merentangkan busur serta mengarahkan anak panah itu menuju sasaran.
Sang pemanah sejati tulus menunjukkan keinginan, niat, hasrat, dan obsesinya untuk mencapai titik sasaran hidup.
Ke manakah hendaknya kita akan berguru? Ke mana kita meyerahkan para putra-putri kita untuk dibentuk demi menjadi seorang manusia sejati?
Apakah kita rela dan ikhlas menyerahkan generasi muda kita ke lembaga pendidikan yang lebih membanggakan kecerdasan rasional (IQ)? Ataukah dengan arif, kita menyerahkan mereka ke lembaga pendidikan yang lebih mengutamakan pembentukan kepribadian dan moral? Sehingga kelak terbentuk sebuah generasi baru yang memiliki hati nurani dan berkarakter?
Sang pemanah sejati sungguh tahu, ke mana dia akan merentangkan busur dan melesatkan anak panahnya.
Kediri, 2 Agustus 2023

