Oleh : Rm. Petrus Santoso SCJ
“Whoever has ears ought to hear” (Matthew 13:43).
Sekarang pewartaan Sabda Tuhan semakin kreatif. Pasti banyak yang mendapatkan bermacam-macam renungan dari para sahabat. Baik dalam bentuk video, audio, atau tulisan.
Satu hari, jika sahabat makin banyak, kita tentu ikut grup wa di mana-mana. Ada teman yang rajin berbagi, dan pasti dapat kiriman berbentuk renungan yang banyak pula.
Saran saya, baca dulu bacaan hariannya, baru kemudian kita membaca renungan-renungan yang dikirim itu. Kalau membaca, tidak perlu cepat-cepat, tapi diresapi.
Maksud saya, biar dirimu terlatih dan akrab dengan bacaan-bacaan Kitab Suci pada hari yang bersangkutan. Supaya bisa melihat korelasi antara bacaan, renungan, dan hidupmu.
Setelah mulai akrab, semangat, dan sudah menjadi ketekunan sehari-hari, mulai diaktifkan panca indera pendengarannya.
Sederhananya demikian, saat dirimu membaca Sabda Tuhan dengan hening dan dalam suasana doa, apa yang dibaca itu, bisa “kamu dengar. Tuhan sedang berbicara.” Pada saat itulah “telingamu mendengar.”
Tuhan memberikan pesan-Nya kepada kita melalui Sabda-Nya itu. Muncul reaksi dari dirimu. Biasanya ‘ada sukacita’, bukan ketakutan atau reaksi-reaksi negatif yang lain.
Mengapa ini saya katakan, karena Sabda Tuhan yang kita dengarkan itu memberikan daya perubahan. Jika kita peka, perubahan itu diberikan setiap hari.
Kadang untuk berubah, kita mesti menunggu atau kadang menantikan nasihat orang lain, padahal di depan mata kita, setiap hari Tuhan berbicara.
Soalnya adalah ada yang sedang berbicara, tetapi tidak didengarkan. Akhirnya, pesan-pesan yang penting dan indah itu lewat begitu saja.
Peristiwa semacam ini terus diulang-ulang, maka tepatlah kita tidak pernah bisa bertumbuh. Mengapa? Telinga ini tidak digunakan untuk sungguh mendengarkan. Tidak berubah sikapnya. Mengapa? Karena hati ini tidak berkobar.
Menarik bacaan Injil hari ini, karena Yesus menjelaskan tentang perumpamaan ilalang di antara gandum (Matius 13:36-43). Pesannya, untuk jadi orang baik, untuk bisa hidup baik, tetap konsisten berbuat baik, ada saja tantangannya, harus berjuang, waspada, dan hati-hati. Jika tidak, terjerumuslah kita, terperosok, dan jatuhlah kita.
Tidak usah banyak bertanya bagaimana berbuat baik itu? Kamu tahu banyak, lakukanlah. Bisa jadi perubahan pada dirimu memang dimulai dari situ: Setelah mendengarkan Sabda Tuhan, lalu tekun melaksanakannya yang terwujud dalam perbuatan baikmu setiap hari. Amin.
Rm. Petrus Santoso SCJ

