Oleh : Jlitheng
[Red-joss.com] Saya bersahabat dengan seorang aktivis gereja yang sudah lebih dari 40 tahun bermain piano untuk ibadat. Sahabat yang lain tidak bosan terus berkiprah dalam dunia komunikasi yang berjuluk Berita Umat. Keduanya berlatih tak henti, berupaya mengemas diri, bukan tentang profesi, tapi tentang pekerjaan yang diyakini sebagai karunia. Mereka dihormati karena terus berbagi, dicintai karena tak henti melayani, di bidangnya masing-masing.
Di dunia ini, kita semua memiliki bagian masing-masing untuk berkontribusi dalam pekerjaan Tuhan. Dalam setiap karunia, materi, pengetahuan dan pengalaman yang kita miliki, dalam setiap hubungan, profesi, dan waktu yang kita jalani, dalam semua hal itu kita selalu mendapat panggilan untuk melayani Tuhan.
Jadikan segala pekerjaan kita, apa pun itu, sebagai bentuk pelayanan kita kepada Tuhan, sebagai saluran untuk menjadi berkat untuk orang lain.
โJika ada orang yang berbicara, baiklah ia berbicara sebagai orang yang menyampaikan kebaikan Allah; jika ada orang yang melayani, baiklah ia melakukannya dengan kekuatan yang dianugerahkan Allah.”
Dengan cara demikian Allah dimuliakan dalam segala sesuatu dan kita telah ambil bagian dalam pekerjaan-Nya.
Di usiaku yang tidak lagi muda ini, saya ambil bagian dalam pekerjaan Tuhan dengan menulis. Untuk menggenapi apa yang dulu pernah kubaktikan.
โUrip kuwi urupโ. Ibaratnya obor, hidup harus tetap bernyala, kalaupun nyalanya tak lagi sempurna.
Tetap tekun berbagi cahaya sebagai sebuah karunia.
Jlitheng

