Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
“Luka yang tidak terlihat itu lebih berbahaya daripada luka yang berdarah.”
[Red-Joss.com] Saat kita menyaksikan sepasang bola mata sahabat yang tampak berkaca-kaca, tentu, kita menyimpulkan, bahwa sahabat itu sedang galau. Dia sedang sedih, dirundung duka, atau ada masalah besar.
Mata, sepasang bola mata adalah potret isi hati. Kedipan atau redup bola mata itu, sering kali sangat jujur mengatakan, siapakah diri ini. Juga saat kita sedang gembira atau berduka. Bola mata itu adalah ekspresi isi hati yang paling tulus dan dalam.
Sepasang bola mata yang berkaca-kaca, biasanya mengekspresikan, bahwa sang pemilik itu sedang dalam suatu masalah. Perasaan sedih dan duka yang sungguh mencekam jiwanya.
Mengetahui sahabat yang gundah gulana atau berduka itu, terkadang kita tidak bisa menahan diri untuk menghibur dan menolongnya.
“Jangan takut. Aku siap membantu. Ayo, kita menyelesaikan bersama.”
Stop! Hindari untuk terlalu jauh menanyakan atau menyelidiki masalahnya. Tapi pahami lebih dulu keadaan dan kegalauan hatinya itu.
Bisa jadi, kegalauan itu bersumber dari sebuah masalah yang sangat personal. Mungkin juga sahabat itu tidak ingin membagikan atau bercerita pada kita.
Tugas utama seorang sahabat yang baik adalah berupaya untuk menenangkan dan mententramkan hati sahabatnya itu agar kembali ceria.
Sahabat yang baik itu selalu ada dan hadir dalam suka duka. Bahkan, tanpa diminta selalu siap membantu sahabat yang sedang susah atau berjuang sendirian dalam menghadapi kesulitan.
“Dan Ia akan menghapus segala air mata dari mata mereka, dan maut tidak akan ada lagi; tidak akan ada lagi perkabungan, ratap tangis, atau dukacita, sebab segala sesuatu yang lama itu telah berlalu” (Wahyu 21 : 4).
Kediri, 30 Juli 2023

