Oleh : Mas Redjo
“Apa yang harus kita lakukan, ketika melihat rumah sendiri berantakan dan kotor?”
[ Red-Joss.com ] Jujur, awalnya saya tidak peduli dan masa bodoh. Ada istri yang biasa bebersih rumah, anak-anak yang siap kerja bakti, dan ada orang yang siap untuk dimintai bantuan.
Faktanya, rumah yang satu ini tidak bisa dibersihkan oleh siapa pun, kecuali oleh saya sendiri. Karena rumah itu adalah hati saya.
Awal mula saya bebersih rumah hati adalah, ketika saya tersentak oleh homili Romo, bahwa hidup tanpa direfleksikan itu tidak layak dihidupi. Romo itu lalu mengutip firman Allah (Luk 15: 7):
“… demikianlah akan ada sukacita yang lebih besar di surga atas 1 orang berdosa yang bertobat daripada atas 99 orang benar yang tidak membutuhkan pertobatan.”
Di dalam keluarga, saya merasa benar sendiri, karena saya yang bekerja dan memenuhi kebutuhan keluarga.
Di dalam komunitas saya merasa orang penting, karena saya aktivis yang dermawan.
Di lingkungan tempat tinggal, saya merasa orang terhormat, karena murah hati.
Sesungguhnya, karena merasa dan merasa lebih dibandingkan dengan orang lain. Saya membatasi diri dan pilih teman yang selevel, atau yang mudah disuruh.
Mimpi, ya, mimpi semalam itu yang menghempaskan kesombongan ini. Saya seperti ditegur dan diingatkan. Saya bermimpi istri dan anak-anak melawan saya yang otoriter. Lalu mimpi saya meloncat pada kisah Lazarus yang borokan dan orang kaya, ketika mati.
Saya dihantui mimpi dan perasaan ini jadi tersiksa sekali. Lalu khotbah Romo pagi itu menghentakkan jiwa ini ke lorong gelap tanpa dasar. Saya diingatkan dan disadarkan dari mimpi buruk. Mata hati saya dicelekkan untuk melihat perilaku sendiri.
Tidak terasa air mata saya menitik. Saya malu-semalunya dengan perilaku sendiri. Saya diingatkan untuk berbenah, berubah, dan perbaiki diri.
Saya berdoa dan akui dosa-dosa. Ketika meninggalkan gereja, saya berjanji untuk menjadi manusia baru.
Pendampingan dan penyertaan Tuhan menyata dalam hidup kita. Karena IA setia.
Mas Redjo

