Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
| Red-Joss.com | Alkisah, seorang petani menemukan sarang burung rajawali di ranting sebatang pohon.
Di sarang itu terdapat telur-telur yang terasa masih hangat. Karena baru ditinggalkan induknya.
Petani itu lalu mengambil sarang beserta telurnya. Setiba di rumah, telur itu diletakkannya di dekat seekor induk ayam yang sedang mengeram, hingga menetas.
Anak-anak rajawali itu pun dapat hidup bersama dengan anak-anak ayam. Tapi mereka tidak menyadari, bahwa mereka berbeda. Anak rajawali itu pun menciap, mengais, dan mencotok layaknya anak ayam. Induk ayam itu pun memperlakukan anak-anak rajawali seperti anaknya sendiri.
Di sebuah kesempatan, saat mereka berkeliaran di jalan desa, tampak serombongan burung rajawali sedang terbang gagah mengitari langit biru.
Betapa cemburunya seekor rajawali itu saat dia menyaksikan kedigdayaan rajawali itu mengepakkan sayap-sayap yang perkasa.
Gumannya, “Andaikan aku ini seekor rajawali, tentu aku tidak akan kalah untuk mengitari angkasa itu.”
Sesungguhnya, kita pun dapat dianalogikan seperti burung rajawali itu. Kita pun memiliki sepasang sayap indah memesona yang mampu membawa kita ke angkasa biru.
Sayap-sayap pengharapan untuk meraih impian dan cita-cita luhur. Tapi sayang, kita sering kali tidak mampu mengenal diri, bakat, dan potensi kita.
Hal itu berdampak, kita bersikap seadanya tanpa pernah mau berjuang untuk bertumbuh dan berkembang sesuai bakat dan potensi yang Tuhan karuniakan kepada kita.
Sayang seribu sayang, jika di masa tua pun, kita tidak mengenal dan mengembangkan potensi yang kita miliki itu.
Semoga kisah interisan ini, mampu menyadarkan kita, agar dapat sungguh mengenal diri dan aneka potensi istimewa yang dikaruniakan Tuhan kepada kita.
…
Kediri,ย 29ย Juliย 2023

