Oleh : Mas Redjo
[ Red-Joss.com ] Dalam suatu serasehan di padepokan ‘Srawung’, seorang peserta bertanya pada Guru Bijak.
“Kenapa tiap kali saya posting foto di grup selalu tidak ada gambarnya?”
“Salah jepret ‘kali.”
“Kirimnya ke Ayu Ting Ting,” celutuk yang lain.
Lalu geeer. Aula heboh.
Guru Bijak mengamati penanya itu yang tampak serius.
“Guru percaya?”
Guru Bijak tersenyum mengiyakan.
“Tidak aneh?!”
Guru Bijak menggoyangkan kepala.
“Apakah kita mau memahami misteri yang sering kita anggap aneh itu? Karena keterbatasan nalar ini โฆ”
Kediaman memagut sunyi. Wajah-wajah beradu pandang dalam tanya.
Penanya itu lalu menceritakan kronologi peristiwa yang dialaminya dengan gamblang.
“Kenapa fotomu yang diposting dalam grup keluarga bisa muncul, sedang di grup lain: tidak?!”
“Ya!”
“Foto tanpa wajah?!”
Sekali lagi manggut. Ia lalu menunjukkan contoh dengan memposting foto ke grup keluarga dan komunitas lain. Aneh. Yang diceritakan itu terjadi kembali!
“Apa benar yang di samping saya tidak memberi izin?”
“Sebelahnya siapa, Mas? Nggak ada tuh,” canda yang lain.
“Seharusnya foto itu sama, kenapa jadi beda dan berubah aneh?” Guru Bijak menyapu pandangan ke para cantrik.
“Mungkin ada di antara kita, ketika difoto tidak ada gambarnya, karena dihalang-halangi oleh yang ‘ngikut’ kita?” gumam Guru Bijak. “Terlepas daripada itu, kita perlu bertanya pada diri sendiri. Kenapa kita ingin memposting tetek-bengek kegiatan? Untuk apa? Manfaatnya apa?”
“Supaya โฆ Wow, keren, hebat โฆ dan sejuta pujian! Begitu?”
“Bangga? Jelas, karena kita pernah berwisata ke tempat itu. Kita mendului teman lain sebagai pioner.”
“Atau kita bangga, karena ngumpul di hotel berbintang, makan di resto mahal, naik jabatan, dan sebagainya.”
“Apakah postingan itu salah? Tidak. Itu hak tiap individu. Mungkin kita ingin berbagi kebahagiaan dengan yang lain. Menularkan semangat positif kepada yang lain, supaya lebih giat bekerja. Tapi kebanggaan yang berlebihan itu tidak ‘sehat’. Kenapa? Hal itu bisa dimanfaatkan oleh oknum untuk memantau kelengahan kita dengan melakukan perampokan di rumah, karena ditinggal penghuninya.”
“Bisa juga. Kebanggaan akan gaya hidup yang berlebihan berkesan ‘wah’, merasa kaya, hebat, pejabat, lebih hebat dibanding orang lain. Kita mereguk kesenangan dengan menghambur-hamburkan uang โฆ Kebanggaan itu membius, membuat kita terlena hingga lupa diri. Kita jadi sombong, egois, dan tidak mau dikritik. Akibatnya, kita kurang peka pada keluarga, tidak empati pada teman, bahkan tidak peduli pada yang lain, karena kita selalu mendulukan kepentingan diri sendiri. Yang kita buru hanyalah kebanggaan semu.”
“Orang yang menepuk dada itu luka sendiri.”
“Ketika tersadar, mungkin kita merasa asing, karena tubuh ini makin renta, sakit-sakitan, dan miskin. Lebih menyakitkan lagi, sekiranya kita ditinggal keluarga dan teman-teman.”
Kebanggan itu perlu asal jujur sesuai hati nurani. Tujuannya untuk memotivasi diri dan orang lain, jauh dari ambisi, apalagi untuk saling menyakiti. Kebanggaan yang sekadar untuk merajut silaturahmi, supaya harmoni dan bahagia.
Mas Redjo

