Oleh : Rm. Petrus Santoso SCJ
“By your perseverance you will secure your lives” (Luke 21:19).
[ Red-Joss.com ] Segala hal yang dilakukan dengan tergesa-gesa, hasilnya dapat kita lihat, pasti tidak baik dan tidak maksimal. Apakah itu belajar, bekerja, atau berdoa. Jika dilakukan dengan tergesa-gesa, tidak banyak yang kita dapatkan. Sebaliknya, kita akan kecewa dan menyesal, karena hasilnya jauh dari harapan.
Begitu pula dalam pertumbuhan rohani, kita tidak diizinkan untuk melakukannya dengan tergesa-gesa. Ikuti dan nikmati prosesnya. Juga lihat tahap-tahapnya.
Awalnya, ketika masih kanak-kanak, kita hanya bisa membuat Tanda Salib dan mendoakan doa-doa pokok dalam Gereja: Salam Maria, Bapa Kami, Kemuliaan dan Aku Percaya.
Sekarang, setelah melewati waktu, bertumbuh dalam komunitas: keluarga, sekolah, lingkungan dan Kelompok Devosi, kita merasakan pertumbuhan iman itu. Apakah kita melakukan itu dengan tergesa-gesa? Pasti, tidak!
Sesungguhnya, dalam frase “Jangan Tergesa-gesa” ini ada 4 poin yang dikaitkan dengan pertumbuhan iman kita, yaitu:
Pertama, percaya Tuhan senantiasa bekerja dalam hidup kita, juga ketika kita tidak merasakannya. Pasti pernah terjadi dalam hidup ini, ketika kita merasa kehilangan sosok Tuhan. Atau mungkin juga pernah terjadi dalam kehidupan ini, saat kita berdoa di hadapan Tuhan, kita merasa sedang berbicara sendiri. Kita merasa Tuhan tidak ada di hadapan kita. Atau pernah juga terjadi dalam kehidupan ini, saat kita ditanya oleh seseorang tentang relasi kita dengan Tuhan, jawaban kita sekenanya, “biasa-biasa saja” atau “tidak tahu” atau “bingung”. Kok bisa? Karena tidak tahu, bagaimana Tuhan bekerja?
Sesungguhnya, meskipun kita mengatakan, bahwa “Saya tidak merasakan kehadiran Tuhan”, catat baik-baik ya, Tuhan tetap bekerja dalam kehidupan kita.
Kedua, belajar terus menerus dan tuliskan pertumbuhan iman itu dalam buku harian, buku refleksi, atau dalam buku jurnal. Intinya, kita berani untuk mengevaluasi pertumbuhan iman. Karena kita harus belajar dari pengalaman-pengalaman itu. Jangan merasa malu, jika memang iman kita belum matang dan dewasa. Pertumbuhan iman adalah bicara tentang relasi dengan Tuhan. Untuk bisa berelasi dengan Tuhan, kita tidak harus belajar teologi dan Kitab Suci atau ikut kursus ini dan itu, tapi bagaimana kita bisa merasakan ketenangan dan damai saat berdoa di hadapan Tuhan. Juga saat bagaimana kita bersabar menantikan jawaban dari doa-doa itu.
Ketiga, tumbuh menjadi pribadi yang sabar di hadapan Tuhan dan untuk diri sendiri. Jujur, banyak dari antara kita, terus berjuang untuk menjadi pribadi yang sabar. Banyak dari antara kita suka yang serba cepat dan kadang terpengaruh dengan yang spontan, bahkan jika tidak hati-hati dan bijaksana ikut yang spekulatif. Ketahuan, jika ada sesuatu yang kita inginkan tidak tercapai, kita mudah frustasi. Untuk kita yang punya kecenderungan menjadi pribadi yang tidak sabaran, ikuti nasehat dari Santo Yakobus ini, “Biarkan ketekunan itu memperoleh buah yang matang, supaya kamu menjadi sempurna dan utuh dan tak kekurangan suatu apa pun” (Yakobus 1:4). Pesannya jelas, bahwa “ ketekunan itu mendatangkan kematangan yang sempurna.”
Keempat, jangan mudah berkecil hati. Sikap merasa kecil atau kecil hati menjadi salah satu penghalang untuk pertumbuhan rohani. Efek dari sikap ini adalah kita tidak akan pernah bisa menjadi pribadi yang mandiri. Kita akan terus tergantung pada orang lain. Pribadi semacam ini pasti merepotkan. Apakah sikap ini ada dalam kita? Jika ada segera berubah, dan perbaiki.
“A delay is not a denial from God.” Sering terjadi, jika kita minta kepada Tuhan, tapi tidak segera dijawab, lalu kita ngambek, karena Tuhan tidak sayang. Stop, jangan berkecil hati. Tetaplah semangat!
“Please be patient, God is not finished with you yet.”
Percaya dan yakini, bahwa Tuhan tengah menyiapkan rencana yang besar untuk hidup kita. Syaratnya: jangan tergesa-gesa. Pasti, tiba waktunya. Tuhan memberi kita yang terbaik.
Rm. Petrus Santoso SCJ

