Oleh : Mas Redjo
[ Red-Joss.com ] Jujur sejujur-jujurnya, saya tidak bisa menerima, apalagi sependapat dengan anggapan orang, bahwa “berbohong demi kebaikan orang itu dibenarkan.”
Bagi saya pribadi, lebih baik katakan ya, jika itu benar. Katakan tidak, jika itu salah. Lebih daripada itu datangnya dari yang jahat. Sederhana, tapi jelas dan tegas.
Apa pun yang sifatnya berbohong itu berarti hatinya telah kehilangan kejujuran dan ingkari kebenaran itu.
Apa pun dalilnya, kebohongan itu jelas bertolak belakang dengan kebenaran. Sehingga, sungguh aib dan menajiskan diri sendiri.
Coba lihat dan amati realita itu di lingkungan sekitar. Banyak orang melakukan kebohongan dengan mengkorbankan orang lain. Ada juga koruptor yang hasilnya untuk berbagi pada fakir miskin atau rumah ibadah agar hartanya disucikan. Lho?!
Selalu ada pembenaran diri, kendati berbuat salah. Apalagi kesalahan itu dilakukan secara berjamaah. Lalu disebarkan ke medsos terus menerus, sehingga orang percaya, dan kebohongan itu jadi kebenaran.
Sesungguhnya, serapi-rapinya kita menyembunyikan kebohongan itu pasti terbuka juga. “Orang yang beraksi dusta itu tidak akan terlepas dari hukuman, dan orang yang mengembuskan kebohongan akan binasa” (Amsal 19: 9).
Sebaliknya bagi orang benar itu tidak harus berkecil hati dan takut, jika didholimi, diintimidasi, dan bahkan disingkirkan. Karena orang benar pembelanya adalah Allah Yang Mahabenar. Kebenaran itu ketetapan dan milik-Nya.
Berani jujur dan bersikap benar adalah pribadi yang dikasihi Allah.
Mas Redjo

