Oleh : Mas Redjo
[ Red-Joss.com ] Semula wanita baya itu mencoba untuk tidak percaya dengan kabar yang didengar dari tetangganya itu. Tapi cerita yang sama dari tetangga yang lain lagi membuat hatinya jadi ragu. Benarkah kabar itu?
Ia ingin melihat dan membuktikan sendiri. Tapi ia berharap dan berdoa semoga hal itu tidak benar. Mereka salah melihat. Orang itu mirip, dan bukan calon menantunya!
Ia lalu mencoba untuk menyusuri jalan yang dikatakan tetangganya itu. Tapi selama dua hari ia tidak melihat calon menantunya. Sedang ada tarikan?
Didesak oleh rasa penasaran dan tidak ingin jadi bahan gunjingan tetangga, ia lalu menanyakan hal kebenaran itu pada putrinya.
โMaaf Bu, iya,โ jawaban putrinya, AI yang jujur itu membuat ia terhenyak sesaat. Ketenangan AI membuat ia makin penasaran.
โMungkin ada tetangga yang cerita, atau Ibu melihat sendiri. 6 bulan lalu tempat kerja Mas BB bangkrut. Ia tidak mau menganggur, lalu ngojek sambil mencari kerja yang cocok.โ
โKau tetap serius mau melanjutkan hubunganโฆ?โ
โMaksud Ibu?!โ AI balik bertanya. Ia sungguh tidak percaya mendengar kata-kata itu ke luar dari mulut Ibu. Malu? Ia memejamkan mata, lalu menghela nafas panjang.
โKami sudah memutuskan, Bu, dan kami komitmen untuk menjalaninya bersama. Kami harus berani untuk menerima kenyataan, apa adanya pasangan kami. Saya tidak malu, Bu, meski posisi saya saat ini lebih baik dari Mas BB. Tapi kami saling menghargai dan menghormati,โ AI mantap.
โSaya tidak malu jadi bahan gosip tetangga, Bu. Mereka gampang memberi komentar, menilai, dan menghakimi orang lain. Tapi mereka tidak tahu dan kenal Mas BB yang sebenarnya. Mereka melihat dan menilai Mas BB hanya di luarnya. Saya mengagumi Mas BB, karena semangat juangnya yang gigih dan bertanggung jawab, Bu.โ
Ibu dan anak itu berpandangan dalam diam. Jarum-jarum sunyi menggigit dalam perih.
โKini Mas BB tidak ngojek lagi, tapi ngegrab. Mas BB ingin agar hidup kami ke depan makin baik lagi,โ suara AI bergetar menahan haru. Ia diam saja, ketika dipeluk Ibu. Air matanya tidak bisa ditahan lagi. Ia sesenggukan di bahu Ibu.
โIbu percaya padamu, Nduk. Ibu yang minta maaf,โ kata wanita baya itu sambil membelai rambut AI.
AI ganti memeluk Ibunya semakin erat, karena bahagia.
โTerima kasih, Buโฆโ
Mas Redjo

