Oleh : Fr. M. Christoforus, BHK
| Red-Joss.com | Secara definitif, kata pagar, bermakna sarana, berupa besi atau kayu, atau pun tumbuhan tertentu yang disusun atau ditanam berderet atau pun bersilang yang digunakan untuk melindungi sesuatu di dalamnya. Sehingga, ada juga yang disebut ‘pagar hidup’ yang biasanya terdiri dari jenis tanaman tertentu.
Tentu, yang dimaksud dengan โpagar makan tanamanโ itu bermakna kiasan atau sebuah peribahasa.
‘Laksana pagar makan tanaman,’ artinya orang yang mestinya menjadi pelindung, malah memanfaatkan orang yang dilindunginya.
Tentu sangat miris dan kita hanya bisa mengelus dada, saat terjadi peristiwa seironi itu.
Nasi telah menjadi bubur! Jika memang sudah terjadi, ya, apa mau dikata?
Ungkapan pagar makan tanaman, dapat menimpa siapa pun, jika kita tidak berhati-hati di dalam bersikap.
Jika telanjur terjadi, kita ibarat makan buah simalakama (like eating simalakama fruit). Artinya, kita berada dalam posisi yang serba sulit dan dihadapkan pada pilihan yang tidak enak.
Lalu, bagaimana kita bersikap? Melarikan diri dari kenyataan itu, pengecut! Meratapinya, itu juga percuma! Karena kedua sikap yang diambil itu, justru sama sekali tidak membantu menuntaskan permasalahan.
Alangkah bijak, jika kita berani menghadapi kenyataan itu dengan berjiwa besar dan kesatria. Kendatipun sepiring bubur itu tidak akan kembali menjadi nasi.
Sebuah prinsip hidup, bahwa segala sesuatu itu bisa terjadi dan menimpa siapa pun. Kenyataan pahit yang tidak bisa dihindari.
Dengan berani menerima kenyataan itu, kita diajak belajar untuk berkata baik, bertindak arif, dan bijaksana.
“Hendaklah kamu menjadi sempurna, seperti Bapamu yang di surga, sempurna adanya!”
Kediri, 25 Juli 2023

