Oleh : Rm. Petrus Santoso SCJ
| Red-Joss.com | Sejak dulu hingga kini, kita sudah belajar banyak hal tentang ketaatan.
Memang ada orang yang melakukannya dengan sadar, tapi ada yang melakukannya dengan terpaksa.
Bagi kita yang menjalankan ketaatan itu dengan sadar, maka ketaatan itu akan menjadi nilai, tapi, sebaliknya, jika kita menjalankan ketaatan dengan terpaksa, maka akan menjadi beban yang berat terus-menerus, sebab kita merasa dikondisikan tidak menjadi bebas. Bagaimana ketika ketaatan itu dipilih?
Yesus memilih untuk menjadi taat kepada Bapa dan Dia menjalankannya. Soal menjadi taat ditawarkan kepada Nikodemus dengan memberikan penjelasan yang sangat tegas, jika kita mengambil ketaatan sebagai pilihan, maka ganjarannya adalah hidup yang kekal. Menjadi jelas di sini, bahwa ketaatan yang dipilih itu memberikan nilai yang berbeda. Kita menjadi taat, karena memilih dengan sadar, maka yang didapat adalah berkat dari buah ketaatan itu.
Ikut, mengikuti Yesus adalah pilihan yang sadar, dan taat mengikutiNya adalah kerinduan kita. Apakah kita mengikuti Yesus menjadi beban? “Ya, untuk mereka yang belum mantab mengikuti-Nya” dan “Tidak bagi mereka yang sudah memilih dengan sepenuh hati.”
Bagi mereka yang menjawab, “Ya, ikut Yesus membebani”, maka kemudian mereka meninggalkan Yesus tanpa merasa bersalah. Sedangkan bagi yang menjawab “Tidak, ikut Yesus itu benar-benar menjadi berkat,” maka kemudian mereka akan menjalani dengan setia di tengah tantangan.
“For me just obey Him. How about you?”
Rm. Petrus Santoso SCJ

