Oleh : Fr. M. Christoforus, BHk
| Red-Joss.com | Banyak ‘adagium’ berbahasa Latin yang menyebar, memperkaya, dan bahkan menjadi ungkapan mondial.
Saking tenarnya, padat makna, serta bergengsi, maka ada sejumlah adagium yang sangat populer.
Mungkin, Anda dan saya akan sangat terkesima, saat mendengar ucapan, ‘cogito ergo sum’. Atau Anda pun mungkin terharu, mendengar seruan, ‘memento mori,’
atau ‘deus caritas est.’
Ya, sungguh benar! Ada sejumlah adagium Latin yang sudah dikenal serta sangat familiar. Di dalam bidang ilmu hukum, dunia musik, kedokteran, dan pertanian.
“Vox Populi, Vox Dei,” artinya, “Suara Rakyat, Suara Tuhan.
Suara rakyat sebagai representasi suara atau kehendak Tuhan. Tuhan bersuara lewat mulut para jelata. Apakah hal ini bermakna, Tuhan justru memilih rakyat jelata sebagai corong, menyampaikan kehendak-Nya?
Bukankah sudah sangat sering, rakyat kecil diasosiasikan sebagai kaum tertindas? Jadi, dalam konteks ini, suara mereka diyakini sebagai konkretisasi suara Sang Tuhan.
Sesungguhnya, dalam hidup ini m kita jangan meremehkan suara kaum jelata. Jangan sekali-kali membungkam kerinduan kaum tertindas.
Jika arti itu kita luaskan ke segala lini kehidupan. Kita, para orangtua diminta untuk peduli pada seruan polos anak-anak. Para guru dan dosen, dengarkan suara protes terselubung para murid serta para mahasiswa. Para tokoh agama, agar tidak merasa lebih saleh daripada para jemaatnya. Serta para pemimpin di dalam bidang apa pun, sudilah mendengar suara para karyawannya.
Kita pun percaya, bahwa di masa kini, Tuhan tidak lagi berseru lewat langit terbelah. Atau pun lewat deru gemuruh gempa dahsyat serta amukan badai. Namun, Tuhan pun dapat bersuara lewat mulut kaum tertindas.
Kediri, 20 Juli 2023

