Oleh : Jlitheng
| Red-Joss.com | Seorang anak cowok, anak seorang petani menangis, ketika berjumpa Ayahnya yang baru pulang dari ladang.
“Aku diejek teman kelasku, anak orang kaya,” kata anak itu mengadu.
“Apa katanya, Nak?” kata Ayahnya sambil menyeruput kopi hangat seduhan istrinya.
“Miskin, item, baju itu-itu saja.”
“Ah … itu to,” kata Ayahnya sambil memeluk sang anak tanpa berkata sepatah pun.
“Ayo, Nak, setelah makan kita ke kebon sebelah.”
Singkat cerita Ayah dan anak itu sampai di kebon. Sang Ayah mencabut dua bibit tomat yang masih kecil dari pesemaian. Satu diberikan anaknya dan satunya lagi untuk dirinya sendiri. “
“Nak, kita masing-masing nanam dan merawat tomat ini. Kamu tanam di sini dan siram tiap hari dengan air kotor dari parit itu. Ayah akan menyiram dengan air bersih dari kolam di bawah.”
Setelah seminggu mereka pergi bersama lagi, untuk melihat hasil kerjanya.
“Yah, tomatku koq lebih hijau, lebih seger, lebih tinggi dibandingkan Ayah punya?” tanya anak itu heran. “Apa karena Ayah menyiramnya pakai air jernih?”
Ayahnya tersenyum bahagia dan katanya, “Seperti air kotor itu untuk tomat yang kamu tanam. Ejekan semua temanmu adalah kekuatan, sehingga kamu bisa tumbuh lebih subur, lebih segar, dan akhirnya berbuah banyak.”
Pelajarannya: “Jika ada yang katakan hal negatif tentang Anda, tak perlu lari ke sana kemari untuk mencari bantuan. Yang benar tetap benar, walau disiram air kotor. Tapi, jika tidak benar, berhentilah segera. Sebab tidak satu pun yang dapat melindungimu.”
Salam sehat dan tetap tegak sekalipun licin.
Jlitheng

