Oleh : Mas Redjo
| Red-Joss.com | Lho…?!
Ya, maaf. Tidak berarti saya tidak mampu untuk memilah, memilih, dan memutuskan. Tapi saya tidak mau salah pilih, kecewa, atau sakit hati. Sekaligus, saya juga tidak mau mengecewakan orang lain.
Tidak berarti juga saya kolokan, manja, atau pilih enaknya. Saya minta dipilihkan?
Oo, tidak begitu. Jangan salah persepsi, apalagi sekadar untuk menyalahkan atau menghakimi orang lain. Toh, kita juga tidak mau dihakimi.
Sesungguhnya, orang yang mudah menilai sisi keburukan orang lain itu ternyata lebih buruk daripada orang yang dihakimi. Karena, ia tidak melihat balok di matanya sendiri.
Begitu pula saat saya dihadapkan pada suatu pilihan, saya selalu membiasakan untuk menyertakan Allah. Baik dalam pikiran, kata-kata, maupun perilaku. Berpikir dahulu, sebelum bicara atau bertindak agar yang hendak saya sampaikan itu tidak menyinggung atau melukai hati orang lain.
Jikapun yang saya sampaikan itu benar, tapi ternyata melukai orang lain, dengan berbesar hati saya meminta maaf.
Pilihan dan keputusan yang benar, tapi meminta maaf? Ya, karena kita tidak bisa menyenangkan semua orang.
Ketegasan itu penting, kendati tidak sependapat atau disalah-pahami orang lain, lalu terjadi perdebatan.
Sikap rendah hati itu dikedepankan agar apa pun yang kita pilih dan putuskan itu sesuai kehendak Allah.
Orang yang rendah hati itu melihat hikmah Allah dalam setiap memilih dan memutuskan suatu hal, baik saat jatuh, terpuruk, dan kedukaan.
Tidak ada suatu peristiwa di atas dunia ini terjadi secara kebetulan. Tapi semua itu sesuai rencana dan ketetapan Allah.
Memilih itu hak setiap pribadi, tapi ketetapan-Nya adalah yang terbaik untuk kita.
“Terjadilah padaku menurut kehendak-Mu” adalah ‘credo’ yang saya percaya dan imani.
Mas Redjo

