Oleh : Jlitheng
“Benar manusia mati pada saat jantung berhenti. Akan tetapi sebenarnya manusia itu telah mati ketika tidak ada lagi yang mengingatnya dan mencintainya, bahkan saat jantungnya masih berdetak.”
Pikiran ini muncul setelah kulihat foto ‘kaki istriku dibasuh’ seorang Ibu dari Lingkungan lain, pada acara rekoleksi di Rawa Seneng, dalam rangkaian ‘Spiritual Jeourney’ pekan yang lalu.
“Bukan pembasuhan itu, Pa, yang membuat aku terkesan, tapi sapaan dan perhatian mereka membuatku bukan lagi sebagai orang asing,” ujar istri jelang tidur semalam.
Istriku bergabung dengan komunitas Legio Maria dan Kerahiman Ilahi Sanberna yang berkolaborasi dalam Ziarah dan kusebut ‘Domestic Pilgrimage’. “A pilgrimage is a journey or search of moral or spiritual values.” Domestik karena dijalani di Indonesia. Untuk membedakan dengan ‘Holy Land atau Eropa’ dengan destinya Vatikan atau Lourdes, Perancis. Selain karena dana tidak perlu besar, ziarah domestik sebagai bentuk merawat komunitas sebagai ladang Tuhan agar tetap subur. Juga tanpa harus ada guide. ‘Appreciate’ untuk kemandirian mereka dalam merawat iman komunitas sebagai bagian tubuh mistik Kristus (gereja).
Semoga ziarah lokal ini jadi inspirasi para pamong dalam mencari alternatif untuk menjaga pertumbuhan iman umat menjadi gereja yang inklusif, sehingga lebih banyak lagi yang masuk surga.
Terima kasih tim Legio dan Kerahiman Ilahi. Semoga akan lebih banyak lagi di Sanberna ini yang tertarik untuk saling menyapa secara rohani seperti pengalaman istriku. Sebelum pules, dia masih sempat bergumam: “makasih, Bu sudah mencuci kakiku.”
Salam sehat dan tetap berbagi berkat.
Jlitheng

