Oleh : Mas Redjo
| Red-Joss.com | Jika kita ingin diperlakukan baik oleh orang lain, hendaknya kita berlaku baik terlebih dulu.
Begitu pula, jika ingin memperoleh yang baik, hendaknya kita memberi yang baik terlebih dulu.
Sederhana, sesungguhnya konsep hidup ikhlas dan bahagia itu amat sederhana. Yang mempersulit itu datangnya dari keegoisan sendiri.
Bagaimana perasaan ini, jika kita biasa memberi yang baik, tapi kita diberi yang buruk?
Sesungguhnya, hal yang baik dan buruk itu datang dari pikiran kita.
Sesungguhnya, ketika kita menilai pemberian orang itu didasari harga, mahal-murah atau baik-buruknya suatu barang, kita tidak rendah hati.
Memberi, apa pun yang diberikan pada sesama itu bermuara dari hati, perhatian kita kepada orang lain. Memberi tidak sebagai pecitraan dan pamrih, tapi ikhlas.
Banyak orang kaya memberi dari kelebihannya. Tapi orang bersahaja memberi dari kerelaan hatinya.
Jadi, jangan mempunyai anggapan, bahwa yang diberikan orang itu sekadar sekeping uang koin atau segelas air. Memberi itu memaknai agar hidup ini makin berarti.
Coba kita belajar dari persembahan seorang janda miskin (Mark 12: 41-44) atau orang yang memberi secangkir air sejuk kepada salah seorang yang kecil ini, karena ia murid-Ku (Mat 10: 42).
Memberi itu dari keikhlasan hati agar kita melepas tanpa merasa kehilangan.
Sesungguhnya, sekaya-kayanya orang yang memiliki gunung emas permata, lebih kaya itu mereka yang memelihara dan menyantuni orang-orang yang miskin & papa. Setuju?
Mas Redjo

