Oleh : Rm. Petrus Santoso SCJ
| Red-Joss.com |Tetangga? Jika didengarkan sungguh melelahkan, karena tidak pernah berhenti menyalahkan. Jika ditanggapi akan menambah kesulitan, sebab yang bersangkutan terus berpikir, bahwa kita yang bersalah. Lalu, kita putuskan: mendengarkan atau membiarkan.
Orangtua? Jika didengarkan sungguh membingungkan, kadang ada yang masuk akal, tapi banyak juga yang tidak masuk akal. Jika ditanggapi akan menimbulkan perbedaan-perbedaan, sebab yang bersangkutan terus berpikir, bahwa kita tidak patuh. Lalu, kita memutuskan: mendengarkan atau membiarkan.
Sahabat? Jika didengarkan sungguh mengelisahkan, kadang ada yang betul, tapi banyak juga yang tidak betul. Jika ditanggapi akan menimbulkan kebingungan, sebab yang bersangkutan terus berpikir, bahwa kita tidak akrab lagi. Lalu, kita memutuskan: mendengarkan atau membiarkan.
Diri sendiri? Jika didengarkan sungguh melatih kesadaran kita, karena banyak hal yang tidak kita ketahui. Jika diolah seksama, maka kita mampu membedakan, yang salah dan yang benar. Lalu, kita memutuskan: mendengarkan atau membiarkan.
Tuhan? Jika didengarkan sungguh melatih kepekaan kita, sebab apa yang dikatakan oleh Tuhan selalu benar. Jika diolah kepekaan ini, maka akan menuntun kita pada hidup yang selalu benar. Lalu, kita memutuskan: mendengarkan atau membiarkan.
Begitulah hidup: kita pernah bersalah, tapi harus bisa menemukan sumbernya dan bagaimana caranya supaya bisa memperbaiki diri agar tidak jatuh pada kesalahan dan dipersalahkan.
Rm. Petrus Santoso SCJ

