Oleh : Rm. Petrus Santoso SCJ
| Red-Joss.com | Setiap orang tentu tidak bisa menghindari 3 L dalam hidup ini, yaitu “lelah, letih, dan lesu.” Tapi, sebelum keadaan jadi semakin memburuk, lebih baik kita datang kepada Yesus agar kita diberi kelegaan oleh-Nya.
“Come to me, all you who labor and are burdened, and I will give you rest” (Matthew 11:28).
3L: lelah, letih, dan lesu itu memang tidak bisa kita hindari. Lelah secara fisik, letih secara mental, dan lesu secara spiritual. Lalu, hidup menjadi amat berat untuk dijalani. Tidak bergairah dan seolah berhenti. Mandeg.
Ketika lelah secara fisik, badan kita terasa capek. Kita bekerja keras, karena pekerjaan menumpuk, dan diuber ‘deadline’ tugas. Sehingga kita kurang istirahat. Kadang tubuh kita protes. Kita tidak sanggup lagi menahan kecapekan. Kita sungguh lelah, dan lungkrah.
Di saat seperti ini, datanglah kepada Yesus. Dia juga pernah mengalami keletihan: Memanggul salib dari Istana Pilatus sampai ke Bukit Golgota. Ketika kita bicara keletihan secara fisik, Dia tahu, karena Dia pernah mengalaminya. Tidak salah, Dia mengundangmu yang sedang lelah secara fisik saat ini.
Ketika kita letih secara mental. Ada kegelisahan. Hidup jadi tidak nyaman. Pikiran capek. Kita terkadang dihantui oleh bayangan yang menakutkan. Hal-hal yang menyeramkan itu seakan nyata. Semuanya serba mengelisahkan dan mencemaskan. Sehingga kita kita serba ragu untuk melangkah melakukan ini dan itu. Kita “terjebak” oleh keletihan mental. Hidup menjadi “mundur”. Tidak ada semangat. Stagnan. Di saat kita mengalami keadaan seperti ini, datang kepada Yesus. Dia juga mempunyai pengalaman yang sama: saat Dia berdoa di taman Getzemani. Itulah sebabnya, ketika kita bicara tentang keletihan secara mental, Yesus tahu, dan Dia pernah mengalaminya. Tidak salah, Dia mengundang kita datang kepada-Nya, khususnya kita yang sedang mengalami keletihan secara mental.
Lesu secara spiritual. Saat hati kita galau. Adanya hanya rasa resah dan gelisah. Pinginnya hanya menangis. Hati serasa kosong dan kering. Meski kita menyibukkan dengan pekerjaan ini-itu atau kegiatan lain. Tapi hati ini serasa kosong dan kering. Hal ini tidak sekadar soal berdoa atau tidak berdoa. Tapi hal ini soal perjalanan spiritual. Coba bayangkan, ketika hidup kita tidak pernah “tertarik” dengan hal-hal yang rohani. Atau sederhananya, kita tidak mempunyai relasi dengan Tuhan. Apakah kita bahagia? Untuk sementara, ya. Tapi kemudian, pada titik tertentu, kita alami: kekosongan dan kekeringan. Desolasi.
Coba renungkan sabda Yesus, “… learn from me, for I am meek and humble of heart” (Matthew 11:29).
Sesungguhnya, hanya satu pribadi yang bisa mengajari kita, yaitu pribadi yang hidup, Dia, Sang Mesias, Anak Allah yang hidup. Tidak salah, jika di saat kita sedang mengalami kekosongan dan kekeringan, bahkan mungkin sedang menjauh dari Yesus, kita datang kepada-Nya, dan menimba kekuatan dari-Nya.
Apa jaminannya, ketika kita tinggal bersama Yesus di saat lelah, letih dan lesu? Dengarkan dan renungkan kata-kata-Nya. Jadikan ini sebagai pokok doa kita, “… and you will find rest for yourself” (Matthew 11:29). Karena, bersama Yesus, kita mendapatkan kekuatan, kesegaran, dan semangat hidup kembali.
Terima kasih, ya Yesus, saat ini juga kita datang kepada-Mu, karena kita lelah, letih, dan lesu. Amin.
Rm. Petrus Santoso SCJ

