Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
| Red-Joss.com | Pendidikan adalah proses paling awal, mendasar, serta fundamental dalam pembentukan karakter anak. Proses pendidikan itu, identik dengan proses persemaian bibit unggul di atas wadah tanah berhumus. Maka, proses pendidikan yang baik dan benar adalah segala-galanya.
Orang Latin punya idiom unik, “Bona culina, bona disciplina,” bahwa dari dapur yang baik, datangnya kedisiplinan.
Maka, dalam konteks besar dan mendasar ini, sungguh besar serta menentukan, peran sang ortu dan sang guru. Keduanya menjadi wadah utama sebagai lahan subur penumbuh benih-benih kehidupan, yang bernama sang anak manusia.
Tri Pusat Pendidikan ala Ki Hajar Dewantara, telah meletakan dasar berpikir dan pijakan yang mutlak serta perlu kita sadari.
Peran penting antara sang ortu, guru, dan lingkungan benar-benar menjadi wadah dasar bagi pembentukan karakter anak.
Secara filosofis dapat dikatakan, bahwa sungguh penting antara kesejatian serta kesejajaran antara tuturan dan tindakan ortu serta guru di dalam lingkungan hidup anak.
Lingkungan (milieu) itulah wadah utama sang anak belajar mengepakkan sayap-sayap hidupnya. Antara lain, proses penggalian dan penarikan ke luar aneka bakat serta minat sang anak. (educare).
Dalam konteks penting ini, maka sungguh perlu serta mendasar peran ortu serta guru untuk selalu bersikap konsisten. Adanya kesesuaian antara kata dan tindakan keduanya. Jika tidak, maka anak-anak akan mengalami kebingungan dan lambat laun akan membentuk pribadi yang remuk serta terpecah. Lahirlah sikap distorsi dalam diri anak sebagai dampak dari kebingungannya.
Ujung lidah sang ortu dan sang guru, sejatinya haruslah sebagai ujung lidah sang nabi. Selalu berkata serta bertindak dengan baik dan benar. Tidak justru bersikap dan bertindak serba ambivalen.
Maka, kita dapat mengonklusikan, bahwa memang sungguh penting serta mendasar kesesuaian antara kata dan tindakan para ortu pun para guru.
Kediri, 17 Juli 2023

