Oleh : Rm. Petrus Santoso SCJ
| Red-Joss.com | “Be aware that your hearts do not become drowsy from carousing and drunkenness … (Lk 21:34). Tepat sekali peringatan ini. Setiap hari, diusahakan, tujuan hidup kita harus semakin jelas dan mantab langkah-langkahnya.
Diusahakan, setiap hari, kita membuat niat-niat yang hendak dijalani. Jika niat-niat itu mau lebih tepat, kita bisa meminta nasihat juga dari teman, sahabat dan guru spiritualitas kita masing-masing.
Tidak lupa, kita juga berdoa dengan tekun memohon penyertaan Tuhan untuk mengisi hari-hari yang selalu baik. Meskipun demikian, Tuhan tetap sebagai yang utama mengatur hidup kita. Dengan demikian tepatlah apa yang dikatakan oleh penulis Kitab Amsal, “Dengarkanlah nasihat dan terimalah didikan, supaya engkau menjadi bijak di masa depan. Banyaklah rancangan di hati manusia, tapi keputusan Tuhan yang terlaksana” (Kitab Amsal 19:20-21).
Itulah sebabnya, penting untuk mempertemukan niat-niat kita dengan sikap penyerahan diri yang semakin total kepada Tuhan. Bagi orang yang berjalan atas dasar iman akan mengatakan, “FirmanMu itu pelita bagi kakiku dan terang bagi jalanku” (Mazmur 129:105). Maka, supaya ada pelita dan terang yang menuntun niat-niat kita, jangan pernah ada kemalasan untuk berpegang pada Sabda Tuhan. Kalaupun ada tantangan yang akan dihadapi, pondasi iman kita tetap berdiri kokoh, karena dibangun di atas “batu karang” sabda yang kuat.
Pada hari ini dan selanjutnya, kita harus menjadi pribadi yang tahan banting dan pantang menyerah. Itulah yang dimaksud dengan hidup dengan tujuan yang jelas.
Mari kita urai lebih mendalam tentang hidup yang dimaksudkan dalam 3 area ini:
Pertama, tentang identitas kita. Pertanyaan yang muncul adalah “Who am I?” Untuk menjawab pertanyaan singkat ini, dibutuhkan waktu yang cukup panjang. Barangkali sampai di “titik akhir kehidupan pun” pertanyaan singkat itu belum bisa terjawab.
Kedua, tentang kepentingan kita. Pertanyaannya adalah “Do I matter?” Dari pagi sampai malam, lalu pagi lagi banyak sekali yang kita pikirkan. Waktu 24 jam tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan kita, kecuali seorang pemalas, 10 menit saja sudah bosan. Maka penulis Kitab Amsal menyinggung para pemalas ini demikian, “kemalasan mendatangkan tidur nyenyak, dan orang yang lamban akan menderita lapar” (Kitab Amsal 19:15).
Ketiga, tentang pengaruh yang ada di sekitar kita. Pertanyaan yang muncul adalah “What is my place in life?” Jujur, banyak sekali konflik nilai. Coba lihat berita, pendapat, dan penilaian-penilaian di media, jika kita orangnya “plin-plan”, wah … dengan mudah kita akan terpengaruh. Belum lagi adanya konflik-konflik nilai yang dihidupi oleh lebih dari 6 milyar kepala yang tinggal di planet bumi ini.
Maka, saya terkesan dengan jawaban Dalai Lama ketika ditanya oleh Desi Anwar tentang siapa dirinya sebenarnya. Lalu jawaban dari Dalai Lama adalah “I am just a human being amongst a world of seven billions human beings.” Akhirnya, Desi Anwar menuliskan, “Well, he is certainly one in a billion” (Baca: Desi Anwar, “Faces & Places – A Traveler’s Notes”, Gramedia, 2016, hal. 19).
Dalai Lama mengerti dengan apa yang dimaksud dengan tujuan hidup yang jelas itu. Lalu bagaimana dengan kita? Untuk menjawab pertanyaan ini, lihatlah kembali niat-niat yang sudah dibuat setiap hari.
Sungguhkah niat yang saya buat ini bisa menghantar kepada tujuan hidupku yang jelas atau sebaliknya, sampai detik ini, saya masih belum yakin.
Maka, kataku, masih ada waktu!
Saranku, ambil lagi kertas dan pena, tuliskan kembali niat-niat yang mengarahkan kita kepada hidup dengan tujuan yang jelas.
Caranya, jawab pertanyaan ini: “What will be the center of my life? – Apa yang ada di pusat hidup saya?” Jika kita mengatakan bahwa yang “di pusat” adalah Tuhan, maka saat ini juga, kita mengambil langkah yang tepat.
Mengapa?
Perhatikan pernyataan ini, “When God is at the center, you worship. When He is not, you worry! – Ketika Tuhan ada di pusat, maka kita menyembah. Ketika Tuhan tidak di situ, kita cemas.”
Jujur, benarkan? Akhirnya, “The moment you put Him back at the center, you will have peace again.” Itulah yang dimaksud dengan hidup dengan tujuan yang jelas, yaitu Tuhan ada di pusat hidup kita, di tengah keluarga, dan di tengah-tengah komunitas kita.
Rm. Petrus Santoso SCJ

