Oleh : Mas Redjo
| Red-Joss.com | Setiap kali saya ingkari janji, nazar, atau sumpah, saya segera meruwat hati agar tidak alami nasib buruk atau celaka.
Tidak sekali dua kali saya alami hal itu, dan untuk kali ini, saya sungguh kapok agar tidak mudah janji atau mengucap sumpah demi pujian dan kebanggaan semu.
Bagaimana tidak! Ketika saya janji dengan pemasok barang untuk bayar hutang, saya mengulur-ulur waktu. Akibatnya, tidak dipercaya lagi, dan saya tidak diberi barang.
Saya lalu pindah ke pemasok lain, tapi tidak lama saya kehilangan kepercayaan lagi. Kesombongan, merasa dibutuhkan pemasok barang, membuat saya lupa diri. Saya merasa sulit membangun kepercayaan, baik dengan pemasok barang dan pelanggan yang kecewa, karena pesanannya molor dan tidak segera dikirim.
Begitu pula saat saya mengucap sumpah waktu pemilihan lurah di desa. Saya menjagoi teman dekat yang pintar, kaya raya, dan anak pejabat. Tidak pada pesaingnya itu. Bahkan, saya bersumpah, jika pesaingnya yang plonga plongo itu menang, saya akan jalan kaki dari I ke kota J.
Saya termakan sumpah sendiri! Faktanya pesaing sahabat saya yang plonga plongo itu menang, dan menjadi kepala desa.
Demi jaga gengsi dan reputasi, saya lalu menutupi telinga agar tidak mendengar omongan orang atau yang menagih sumpah saya. Untuk menghilangkan jejak dan orang melupakan sumpah itu, saya membayar orang untuk membuat isue baru untuk mengalihkan hal itu.
Sungguh aneh, tapi nyata. Sumpah jalan kaki itu harus saya tepati dan wujudkan. Jika tidak, saya dikejar dan dihantui oleh sumpah itu. Saya makin tidak tenang dan tersiksa. Kata istri, saya sering mengigau dalam tidur, dan diburu kengerian yang luar biasa.
Beberapa teman menyarankan agar saya merealisasikan janji, atau bersilaturahmi dan meminta maaf pada orang itu. Maksudnya, agar hati saya jadi tenang dan damai. โMinta maaf tapi reputasi ambyar?โ Hal itu tidak sebanding dan tak ada untungnya, pikir saya mencoba untuk melupakan sumpah itu.
Anehnya, untuk yang kesekian kali pula peristiwa jelek itu menyerbu saya dan keluarga. Mulai dari anak yang didholimi mitra bisnis, pencurian, dan seterusnya.
Sesungguhnya, apa yang terjadi? Padahal saya rajin puasa, ibadah, dan berderma. Mengapa masalah dalam keluarga tidak kunjung usai? Ya, Allah, di mana salahnya?
Saya lalu mencoba meruwat hati ini. Aneh seanehnya, mulut ini tidak bisa diajak kompromi. Hati saya tidak mampu mengendalikan. Mulut itu nerocos bagai air bah. Saking jengkel, saya menjahit mulut sendiri agar tidak ngoceh. Beruntung musim maskeran, sehingga tidak ada orang yang tahu. Untuk sementara, makan minum saya menggunakan infus!
Anehnya, mulut dapat dikendalikan, gantian jari tangan yang berontak, ketika saya melihat dan mendengar hal yang tidak berkenan di hati. Mata melotot, jari tangan menunjuk atau kirim kritikan atau sanggahan ke sosmed.
Tiba-tiba saya takut dengan diri sendiri. Ketika saya mau meruwat hati, anggota tubuh saya yang lain berontak. Bahkan otak ini juga kian sulit dikendalikanโฆ
Lalu, saya teringat suatu kutipan ayat Kitab Suci: โLebih baik kita kehilangan salah satu anggota tubuh daripada dilemparkan ke dalam neraka dengan tubuh yang lengkap.โ (Mat 5:30)
Jantung saya berdegup keras. Saya tidak mungkin korbankan mata, mulut, dan bagian tubuh lainnya.
Sesungguhnya jalan untuk meruwat hati adalah kita berani berdamai dengan sesama dan berdamai dengan diri.
Semangat berjiwa besar agar saya makin rendah hati.
Masย Redjo

