Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
| Red-Joss.com | Pernahkan Anda cermat mengamati sekeping koin? Koin, tidak pernah hanya memiliki satu sisi, tapi dua sisi. Sisi depan dan sisi belakang.
Kita, sang manusia juga memiliki dua sisi. Ada sisi kebaikan dan ada sisi kekurangan. Seperti juga fenomena alam. Ada siang dan malam hari.
Di saat siang hari, ada pancaran terik mentari yang menghangatkan tubuh hingga kita berkeringat. Di malam hari, ada sang rembulan dan gemintang yang asyik berkedipan manja. Suasana malam kian romantis, tatkala sekujur tubuh diterpa lembut cahaya rembulan dan dibelai manja angin malam.
Di dalam filsafat Cina, kita mengenal ada dua sisi kehidupan. Yakni, yin dan yang. Keduanya, juga sebagai simbol kewanitaan (femininum) dan kepriaan (maskulinum). Adapun sifat dasar yin dan yang, ialah saling memuat dan saling menopang, dan bukan saling mengiris atau memotong.
Bahkan, di dalam titik yin terdapat titik yang, dan di dalam titik yang terdapat titik yin. Keduanya pun membentuk satu kesatuan utuh total. Itulah keseimbangan abadi.
Di dalam hidup ini, sering kita gampang mengadili sesama. Kita terjerat oleh kepicikan lewat sikap mengadili. Padahal, sejatinya seorang manusia, justru memiliki dua sisi. Kita, hanya menilai berdasarkan satu sisi. Kita telah melupakan sisi yang lain, yang justru menjadi kekuatan seorang manusia.
Oleh karena itu, hendaknya kita, tidak bersikap gegabah untuk menyimpulkan seseorang didasari pandangan yang sempit.
Sekali lagi, mohon diingat! Sekeping koin, selalu memiliki dua sisi seimbang. Itulah eksistensi eternalitasnya!
Kediri, 15 Juli 2023

