Oleh : Rm. Petrus Santoso SCJ
| Red-Joss.com | Awalnya kita diajar. Kita dituntun, lalu menemukan sendiri. Setelah dinyalakan, sekarang dibagikan.
Api cinta Allah itu tidak membakar dan menghanguskan kita. Tapi api itu berkobar, menghangatkan, dan menyemangati hidup kita.
Api cinta Allah adalah simbol dari cara kita mengaktifkan peran Roh Kudus dalam diri kita. Mengapa perlu diaktifkan? Karena sebelumnya kita menerima, tapi melupakannya. Sebelumnya kita menerima, tapi tidak pernah menyadarinya. Kita membiarkannya, dan tidak pernah memakainya. Bahkan sebelumnya kita sudah menerima, tapi meremehkannya.
Sekarang, api cinta Allah itu telah bernyala dan nyalanya berkobar-kobar. Tidak ada yang bisa, boleh dan akan memadamkannya. Api cinta Allah itu telah menerangi hidup kita. Pakailah sesuai dengan fungsinya.
Lihat, hidup kita dilimpahi sukacita, ketika telah dibakar oleh cinta Allah. Allah tidak hanya hidup, bergerak dan ada dalam hati ini, tapi lebih dari itu Allah telah tinggal, menyatu dan melindungi kita.
Saatnya, hati kita dilimpahi dengan damai yang datangnya dari Roh Kudus. Saatnya, pikiran ini diarahkan pada hidup yang dipimpin oleh Roh Kudus. Saatnya, mulut kita selalu berkata, “Ya dan Amin”, karena dari mulut ini terdengar suara kesaksian dari pribadi yang telah dimenangkan oleh dan dalam nama Tuhan.
Rm. Petrus Santoso SCJ

