Oleh : Mas Redjo
| Red-Joss.com | “Karena Allah sangat mengasihimu, kau harus bangkit memperbaiki hidupmu agar kau menjadi kuat dan tangguh.”
Menguatkan dan menyemangati itulah yang saya lakukan pada seorang keluarga dekat saya yang jatuh dan terpuruk.
Ia eksekutif muda yang enerjik. Usianya 30 tahunan. Ia jatuh dan terpuruk, karena mengikuti gaya hidup: “Bendiarani,” ingin diakui.
Padahal, tanpa ingin ‘bendiarani’, statusnya telah menunjukkan hal itu.
Ia lulusan S2 luar negeri, dan GM di suatu perusahaan swasta yang cukup bonafid.
Kenyataannya, gaya hidup itu yang membuat ia terperangkap gengsi, dan jatuh terpuruk.
Gara-gara Penasaran
Awalnya adalah keisengan, ketika ia digoda judi online. Cerita teman yang membuat ia penasaran untuk mencoba, dan menang.
Dari hari ke Minggu, ia dimanja dengan kemenangan. Sedikit demi sedikit, hingga jadi kebiasaan. Ia pun bermimpi ingin cepat kaya.
Rasa penasaran itu yang membuat ia dijerat mimpi ingin cepat kaya secara singkat. Faktanya, usahanya terus menerus gagal total.
Kebiasaan tampil glamour demi status. Dengan beberapa kartu kredit nan sakti itu yang membuat ia piawai menggesek dan terus menggesek demi memenuhi ambisi gaya hidup dan demi memuaskan dahaga menang berjudi. Bahkan lebih parah lagi, dari kartu kredit itu ia lalu terjerumus ke pinjol. Gali lubang tutup lubang. Hingga akhirnya, ia tidak berdaya. Hidup direjam ketakutan, was-was, dan pekerjaan di kantor jadi berantakan. Ia pun madah menerima ancaman keras dari bos. Jabatannya tidak hanya diturunkan, bahkan ia harus siap untuk dipecat!
Penyesalan datang mengguncang jiwanya untuk melarikan diri. Takut pulang ke rumah, dan menghindari keluarga, terutama orangtuanya. Ia tidak siap menanggung beban yang menghimpit itu. Karena selama ini ia lupa diri, lupakan orangtua demi mencari kebahagiaan semu di luaran.
Beruntung, ia mempunyai orangtua yang jeli dan peduli. Perubahan perilakunya itu dilihat Ibu, sehingga ia tidak kuasa menutupinya untuk berterus terang. Beruntung pula Ibu tidak syok dan jatuh sakit. Hingga akhirnya Pakdhe tahu, mendengar peristiwa memalukan itu.
Ia malu semalunya dan terpukul telak, ketika Pakdhe yang tidak tahu menahu itu bersedia menutup hutangnya!
“Ngger, kau harus bersyukur, karena Allah mengasihi, mengingatkanmu. Kau dinolkan lagi agar jadi manusia baru. Tinggalkan masa lalumu yang kelam itu untuk mulai babak baru agar kau kuat dan tangguh,” kata saya meneguhkan hati keponakan. Saya lihat sorot mata adik bungsu itu tampak lega. Beban yang menghimpit jiwanya seakan telah terangkat, dan plong!
Saya menghela nafas panjang. Saya berharap dan berdoa, semoga keponakan saya itu kapok, dan tidak mengulanginya lagi.
Waktu yang akan menguji dan membuktikan hal itu.
…..
Mas Redjo
…..

