oleh : Rm. Petrus Santoso SCJ
| Red-Joss.com | “I tell you, not even in Israel have found such faith” (Luke 7:9). Lalu, siapa yang layak dan pantas mempunyai kualitas iman seperti yang puji oleh Yesus ini?
Apakah yang sering mengucapkan, “Tuhan, Tuhan,” belum tentu. Apakah yang sering mengatakan, “Aku bersyukur jadi anaknya Tuhan,” belum pasti. Apakah yang sering memberikan kesaksian “tentang Tuhan,” belum tentu juga. Mengapa? Jujur saja, tidak ada yang berani mengatakan bahwa dalam hal beriman, tidak berani mengatakan, “Aku lebih baik dari Si A atau Si B.” Sungguh, tidak berani. Tidak bisa menilai diri sendiri atau memberi penilaian tentang orang lain, benar-benar bisa salah.
Harus ada bukti! Yesus memberikan pujian kepada seorang perwira di Kapernaum, karena sudah ada bukti. Dia melihat sendiri mulai dari kata-kata, perilaku, sikap, dan keteguhan imannya. Maka, pujian itu layak dan pantas diberikan kepadanya.
Sekarang kita paham, kualitas iman ditentukan oleh kata-kata, perilaku, sikap, dan keteguhan imannya. Bagaimana dengan kita, apakah iman yang kita yakini itu sudah menyatu dengan kata-kata, perilaku, sikap dan keteguhan iman kita? Jika iya, ya sudah dijalani dengan tekun dan setia dan tidak memuji diri sendiri, tapi jika tidak, siap untuk berproses lagi, dan jangan merasa tidak baik.
Ada indikasi yang baik tentang kualitas iman kita. Sederhananya demikian, jika kita sudah tahu berbuat baik untuk orang lain, itu adalah tanda-tanda, bahwa kualitas iman kita berbuah. Itulah salah satu yang dilihat oleh Yesus dalam diri seorang perwira di Kapernaum itu. Amin.
Rm. Petrus Santoso SCJ

