oleh : Simply da Flores
| Red-Joss.com | Zaman kecanggihan digital telah merasuk semua aspek kehidupan, termasuk membuka pasar istimewa, yakni pasar di layar gadget – pasar digital. Promosi produk pun setiap saat membanjir melalui media sosial digital, langsung kepada setiap orang. Ketika berminat membeli, maka transaksi bisa dilakukan online dan barang diantar oleh jasa kurir ke pintu rumah pembeli. Hal yang sama terjadi juga untuk berbagai jasa yang dibutuhkan konsumen. Luar biasa, zaman terus berubah dihasilkan kemajuan Iptek.
Pasar modern dengan toko dan fasilitas pendukungnya memang masih ada. Tapi banyak yang mulai tutup. Di kampung-kampung, pasar tradisional masih ada juga. Namun, ada sistem penjualan bergerak dengan kendaraan bermotor menghampiri setiap tempat dan calon konsumen. Persaingan tiga model pasar: pasar tradisional, pasar modern dan pasar digital, sedang terjadi di mana-mana, dari kota hingga kampung terpencil. Perubahan terjadi dan banyak tuntutan untuk merubah diri ketika mau mengakses kemajuan zaman, sesuai kemampuan.
Dekat tempat tinggal saya, Nuba Bajo Karang Jawa – Geliting, ada pasar tradisional dan pasar modern. Dalam toko-toko tetap berjualan, sedangkan di pinggir jalan ada para pedagang kecil menjajakan barang dagangan secara tradisional. Konsumen pun bertransaksi sesuai kebutuhan; baik di pasar modern maupun pasar tradisional. Dahulu pasar tradisional berlaku setiap hari Kamis dan Jumat. Namun, sekarang aktivitas pasar berjalan setiap hari. Ada simpul yang sulit diatur tentang pasar tradisional ini, karena kondisi konsumen yang umumnya petani, datang membawa barang komoditi ke pembeli yang gampang dijangkau transportasi. Maka, faktanya pasar tradisional dan modern pun mendekat ke area transasksi hasil komoditi tersebut. Lalu, kemacetan dan masalah kebersihan pun tak terhindarkan.
Nasib para pedagang kecil tradisional itu sering terombang-ambing, karena antara peluang kebutuhan konsumen dan ketertiban selalu bertabrakan. Jika mengikuti lokasi pasar yang disiapkan, maka sering kesulitan pembeli. Emperan toko dan trotoar atau pinggiran jalan menjadi pilihan yang terpaksa dilakukan, demi mendapat rezeki dari model pasar tradisional tersebut. Pihak berwenang pun selalu menemukan jalan buntu dalam mengatasi fakta kerumitan pasar tradisional, antara ketertiban dan kebutuhan riil masyarakat.
Nasib para pedagang kecil, masyarakat sederhana, di pasar tradisional sedang dihadang kemajuan zaman. Sementara dengan usia lanjut dan kapasitas ketrampilan serta pendidikan yang terbatas, memang agak sulit membicarakan peningkatan kapasitas dan inovasi bagi mereka. Pada saat yang sama, kebutuhan terus berjalan bagi keluarga dan kehidupan mereka adalah nilai tertinggi yang harus dibela dan diselamatkan. Bagi generasi muda, memang terbuka peluang mengakses pasar modern dan pasar digital, tetapi tidak untuk pedagang kecil dan tradisional. Di tanah air ini, pedagang kecil dan pasar tradisional masih menjadi bagian terbesar dalam masyarakat untuk menjamin kebutuhan sehari-hari; baik pembeli maupun penjual.
foto ilustrasi : istimewa

