Oleh Simply da Flores
| Red-Joss.com | Musim pancaroba membalut tanah air, iringi mentari lintas kathulistiwa. Anak-anak bangsa bergulat meramu waktu, berlari mengejar asa, merajut suka duka dandani pribadi dengan keputusan. Dari seluruh penjuru Nusantara, ribuan rakyat dibalut warna merah, satukan tekad di gelora Bung Karno Jakarta. Ada hajatan politik partai wong cilik PDIP. Partai lain pun lakukan aneka aksi dengan warna dan gayanya.
Ribuan pencinta adat budaya lakukan Kirab Tumpeng Agung Nusantara Gotong Royong di Candi Palah – Jawa Timur. Ada doa, ritual dan rajutan harapan bagi bangsa dan kehidupan yang tentram, sejahtera dan penuh persaudaraan.
Yang lain dalam diam hening samadhi, daraskan mantra doanya bagi kelestarian alam dan kemaslahatan manusia.
Generasi Muda Katolik Indonesia bertemu di Palembang rajut semangat iman dan patriotisme, 100% warga gereja dan warga negara. Para pewaris bangsa menerjang gelombang tantangan zaman dengan membangun kemandirian demi menenun masa depan gemilang. Dunia sedang dilanda tantangan aneka aspek kehidupan. Manusia bertambah banyak, alam lingkungan terbatas dan berkurang kualitasnya bagi kebutuhan manusia.
Masyarakat Indonesia terus sibuk melukis hari dengan keringat, untuk agungkan anugerah kehidupan. Sesulit apa pun, kehidupan dalam roda waktu tak dapat dibiarkan berlalu tanpa makna. Aneka kebutuhan diperjuangkan demi nafas dan darah pribadi.
Dalam derap pemilu 2024, dengan energi kata ‘menang’, para politisi bergelombang hempaskan ombak strategi dan gaya, pada pantai kesahajaan pemilih, di kota hingga kampung udik pelosok, untuk dapatkan suara dukungan, demi meraih kursi jabatan. Semua membawa warna bendera parpolnya, dan yakin menang.
Polusi moralitas mengotori harkat martabat dengan aneka kasus, diberitakan media sosial, dan solusinya samudera kata-kata manis. Hukum sering tumpul ke pejabat dan tajan ke rakyat, lalu keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia terus didoakan. Kata bijak, nilai moral dan iman, jarang sejalan dengan fakta perbuatan. Panji merah putih berkibar di langit yang polusi dan koruptif, bahkan semakin jarang berkibar di jiwa raga anak bangsa.
Pancasila dan undang-undang dasar negara terus dimutilasi dengan inovasi dan kreasi demi investasi dan prestasi politik. Cita-cita Proklamasi terus menjadi mimpi dan sesekali dibacakan saat selebrasi rutin. Parade bhineka warna kepentingan terus terjadi di negeri ini, entah menjadi pelangi indah atau kubangan lumpur Lapindo dan langit sanubari terus diselimuti awan pekat kelam.
…
Foto Ilustrasi: Istimewa

