| Red-Joss.com | Ini menunjuk pada situasi, ketika kita seharusnya memperhatikan A, tetapi kita malah memperhatikan B,
Misalnya, ketika kita melihat foto seseorang, kita tidak memperhatikan wajah orang tersebut, tapi kita melihat sepatu yang dipakainya, pakaiannya, atau hal yang lain. Bahkan masih berkomentar pula. Tentunya, hal itu tidak benar.
Ketika Yohanes Pembaptis memulai pelayanannya, ada banyak orang yang terpesona padanya.
Sebagian orang bahkan memandangnya sebagai titisan Nabi Elia, nabi besar di mata masyarakat Yahudi pada zaman itu.
Menarik sekali, bahwa Yohanes Pembaptis tidak menggunakan hal itu sebagai peluang bagi dirinya untuk mempopulerkan diri. Yohanes dengan tegas mengatakan, bahwa yang harus diikuti oleh banyak orang itu semestinya Yesus, bukan dirinya.
Yohanes tidak mau orang-orang jadi salah fokus.
Begitu pula kita. Tidak peduli apa pun sikonnya dan yang terjadi pada diri kita, pusat perhatian kita tetap harus tertuju pada Yesus Kristus.
Lihat! Yohanes Pembaptis punya kesempatan menjadi populer, tapi ia memusatkan perhatiannya pada Yesus.
Demikian pula, ketika Yohanes harus melewati masa-masa gelap saat ditangkap oleh penguasa, fokus perhatiannya tetap pada Yesus.
Kita juga jangan sampai salah fokus! Fokus kita adalah tertuju kepada Yesus dan mengikutinya dengan setia.
Kita ikuti kata Yohanes Pembaptis, “Lihat, Anak Domba yang menghapus dosa dunia.”
Tuhan memberkati.
…
Rm. Petrus Santoso, SCJ
…
Foto Ilustrasi: Istimewa

