| Red-Joss.com | Apa yang kita rasakan saat berada di dekat Ibu? Nyaman, dilindungi, damai, dan bahagia.
Dengan Ibu, kita bisa bermanja, mengadu, curhat, atau berkeluh kesah. Kita minta saran, nasihat, dan didoakan agar kita kuat serta tangguh dalam menjalani suka-duka hidup ini.
Banyak orang percayakan hal itu kepada Ibu yang melahirkan kita. Bahkan, surga itu ada di bawah telapak kaki Ibu.
Selalu ingin dekat Ibu, hal itu pula yang dilakukan oleh EY. Tapi sejak Ibu berpulang 10 tahun yang lalu, EY tidak kehilangan pegangan hidup. Bersyukur, sejak lama ia telah temukan pribadi yang sangat rendah hati, dihormati, dan dikaguminya, yakni Ibu Maria, Bunda Yesus, Bunda teladan umat beriman.
Kedekatan EY dengan Bunda Maria itu didasari kerendahan hati Bunda Maria dalam menanggapi rencana dan kehendak Allah. “Terjadilah padaku menurut kehendak-Mu,” adalah totalitas hidup untuk berserah pasrah pada Allah.
Belajar dari semangat kerendahan hati Bunda Maria itu, EY termotivasi untuk berdevosi dan berdoa Rosario sebagai nafas umat keseharian.
Setiap hari, EY menyetel alarm jam pukul 03.55 untuk bangun pagi. Ia berdoa Rosario mulai jam 04.15. Dipilihnya berdoa pagi hari sebagai awal memulai hari baru.
Alasan EY juga sederhana. Hidup yang diawali dengan pujian dan syukur pada Allah adalah dasar keutamaan agar sepanjang hari hingga malam berlangsung baik, indah, dan bahagia.
“Kebiasaan baik dan positif itu akan ingatkan hati, jika kita melupa atau bermalas-malasan,” jelas EY, ketika disinggung rutinitasnya untuk doa Rosario itu. Tanpa doa Rosario, hidup ini serasa hambar dan kosong.
Sesungguhnya, kebiasaan berdoa itu EY warisi dari almarhum Ibu yang selalu bangun pagi. Berdoa dulu sebelum melakukan aktivitas atau menyiapkan sarapan untuk anak-anaknya.
Dengan rutin berdoa Rosario itu EY merasakan hidup dalam keluarga senantiasa dilimpahi damai dan bahagia. Bukan berarti tanpa masalah dalam keluarga, melainkan masalah yang disikapi dalam kerendahan hati itu tampak sederhana, bahkan seakan tiada arti.
Ketika ditanya kesiapan-sediaan EY, jika sewaktu-waktu dipanggil pulang menghadap Allah. Ia menanggapi itu dengan senyuman pasrah.
Dalam berdoa Rosario “Peristiwa Sedih” yang kelima, doa EY: “Bapa hadirlah dekat kami bersama Putra dan Roh-Mu pada saat kami menghadapi kematian, dan terimalah kami dalam Kerajaan Kasih-Mu yang kekal.”
Bagi EY, kematian itu semestinya disambut dengan sukacita. Karena kita bakal meluapkan rasa kangen itu secara nyata dengan kekasih jiwa, Allah Sang Pencipta.
…
Mas Redjo
…
Foto Ilustrasi: Istimewa

