| Red-Joss.com | Di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung. Artinya di mana pun kita barada sepatutnya mengenali, menghargai, dan mentaati budaya dan aturan di daerah setempat.
Barangkali ada orang yang mengabaikan tentang nama baik saat berada di daerah asalnya. Mungkin karena kekuasaan, kekayaan, pengaruh yang dia punya selama ini membuat aturan atau hukum di tempat dia berada.
Bisa juga karena efek dari orangtua yang berkuasa atau berpengaruh, sehingga anaknya mau menang sendiri, dan tak tersentuh hukum.
Ketika kita berada di LN, semua itu tidak berlaku. Apalagi bila negeri itu sangat kuat penegakan hukumnya. Tidak pandang bulu. Siapa pun yang melanggar ada akibatnya. Konsekuensinya.
Jepang termasuk negeri yang tidak banyak menyebarkan petugas kepolisian di area umum. Pengawasan keamanan lebih mengandalkan pada teknologi. Dalam hal ini CCTV yang menjangkau di seluruh wilayah penting di Jepang.
Bila tidak banyak petugas yang kelihatan, bukan berarti Jepang kendor dalam pengawasannya.
Terlepas benar tidaknya atas berita yang sempat viral beberapa waktu lalu, tentang beberapa orang yang ‘nyelinap’ tidak membayar tiket shikansen yang akhirnya ditangkap, karena ada kamera CCTV menunjukkan, bahwa di Jepang ada penegakan ketertiban, aturan, dan hukum.
Ketika kita berada di negara lain, jangan iseng melakukan pelanggaran aturan setempat. Karena terlalu berisiko.
*
Di suatu siang hari, kami ke luar dari warung ramen di Takayama. Kami berjalan agak cepat, karena kebetulan trafic light di perempatan dekat warung itu berwarna hijau untuk pejalan kaki.
Sayup-sayup kudengar suara orang memanggil. Ternyata salah seorang pramusaji ramen di warung itu berlari mengejar kami. Dia membawa botol hand sanitizer milik anak yang ketinggalan.
Kepadanya, aku mengucapkan, “Arigato gozaimasu!“
*
Apa jadinya bila ada orang lain yang menemukan? Orang Jepang terbiasa tak mengambil yang bukan miliknya. Termasuk barang berharga. Dia akan memberitahu pemilik atau pelayan warung itu, dan menitipkan barang itu kepada mereka.
Soal budaya kejujuran seperti ini, sebagai sebuah bangsa Jepang sangat baik. Itu sebabnya banyak barang hilang di Jepang bisa ditemukan. Di sana ada institusi khusus yang menangani “Lost and Found”, yang lokasinya ada di banyak tempat. Seperti bandara ataupun statsiun kereta.
*
Nama baik lebih berharga daripada kekayaan besar. Dikasihi orang lebih baik daripada emas dan perak.
Di bumi yang kita pijak mempunyai aturan, kalau menyeberang jalan raya melewati zebra cross, kita patuhi.
Kalau kita di sebuah hotel ada daftar barang yang tak boleh kita bawa pulang, kita taati.
*
Tidak di negeri sendiri.
Tidak juga di negeri orang.
Nama baik itu penting.
Itu bukan hanya untuk diri sendiri, tetapi juga untuk anak cucu.
Debenarnya nama baik saat di LN itu bukan hanya untuk pribadi sendiri dan keturunan, tetapi juga untuk negara kita.
Orang yang menjaga nama baik dengan bersikap sopan, menaati peraturan setempat, berarti dia juga mengharumkan nama negerinya.
*
Justru kenapa, belakangan ini ada orang pinter, cerdik cendekia yang menjelek-njelekkan negeri sendiri, ketika dia di LN?
Ah, itu tidak dibuat pusing. Orang pintar belum tentu bijaksana. Orang pintar belum tentu punya nama baik.
…
Setio Boedi
…
Foto Ilustrasi: Istimewa

