Oleh Simply da Flores
| Red-Joss.com | Batas adat budaya, wilayah negara dan agama, sudah tak mampu membendung kemajuan Iptek zaman digital. Dengan sarana informasi digital, hampir semua batas ditembus dan setiap pribadi bisa diakses serta dipengaruhi. Aneka tawaran disebar melalui sarana komunikasi digital, dan semua orang bisa mengaksesnya, dari anak-anak hingga manula. Kecepatan informasi digital dan perkembangan teknologinya berbanding terbalik dengan kemampuan masyarakat luas untuk menerima, mencerna dan menyesuaikan diri serta membuat keputusan bijaknya.
Bahkan ditenggarai, bahwa kelemahan kapasitas pribadi mencerna itu justru menjadi lahan empuk untuk pemasaran selera dan aneka tawaran. Keterbatasan atau kebodohan tentang teknologi, justru menjadi peluang pasar bagi para produsen sarana dan informasi digital. Ada indikasi untuk monopoli bagi para pemilik teknologi digital dalam aneka aspek kehidupan. Hukum utama adalah keuntungan bisnis. Yang lemah semakin terpuruk dan menjadi korban, yang kuat secara modal dan menguasai teknologi semakin berkuasa dan kaya raya. Semua hal bisa diatur dengan sarana teknologi digital dan kebanyakan manusia yang gagap telnologi siap menjadi robot atau dikorbankan dalam kemajuan zaman.
Kemajuan teknologi digital tidak hanya di negara maju dan kota besar, namun masuk ke pelosok dunia, kampung dan daerah terpencil, sehingga manusia dan sumber daya alam bisa dieksploitasi. Untuk pasar dan perdagangan, dari kondisi tradisional dan modern, sekarang sedang ditinggalkan dan dipaksa masuk dalam sistem online dan digital. Bahkan sedang diproses uang digital untuk berlaku di seluruh dunia menggantikan uang kertas dan koin. Kekuatan utamanya adalah penguasaan teknologi dan data digital di berbagai bidang tersebut.
Untuk kehidupan di kampung dan komunitas adat budaya, khususnya di tanah air dan negara berkembang lain, masyarakat sedang beradaptasi dari kondisi tradisional ke arah modernisasi. Pada saat yang sama diserbu dengan energi dasyat kemajuan Iptek digitalisasi. Maka, tantangan utama ialah kapasitas diri menghadapi tantangan zaman tersebut, dengan membuat transformasi dan inovasi diri. Jika lamban dan tak mampu, maka siap menjadi korban kemajuan zaman digital yang dasyat dan cepat itu.
Mungkin inilah yang pernah dikatakan Karl Marx, bahwa untuk bertahan hidup, manusia harus melewati hukum evolusi dan seleksi alam, di mana hanya yang kuat bisa bertahan hidup. Sedangkan dalam kearifan lokal, ada andalan pada hukum alam dan kuasa Sang Pemilik semesta. Dalam agama disebut pasrah pada takdir dan kehendak Sang Pencipta. Semua kembali kepada pilihan dan keputusan setiap pribadi manusia. Ada keyakinan bahwa rencana dan misteri Allah tak dapat dikalahkan Iptek, termasuk kecanggihan digital.
…
Foto Ilustrasi: Istimewa

