Oleh: Simply da Flores
| Red-Joss.com | Dalam perjalanan waktu, zaman ini banyak perubahan tak terduga. Baik kemajuan Iptek dan budaya, maupun alam lingkungan terus berpacu dalam perubahan serta tantangannya bagi manusia.
Setiap pribadi mempunyai cara melihat dan memaknai, lalu bisa membuat keputusan terbaik bagi hidupnya. Di tempat saya yang biasanya terik dan musim panas sejak April, tiba-tiba menjelang akhir Juni masih ada hujan. Persis saat sedang bulan sabit. Maka ada inspirasi untuk menulis dalam sajak:
Bulan Sabit dan Hujan Akhir Juni
Terik menikam wajah tanahku
geliat debu senja beterbangan
Lenyap di tepi samudra
saat kami menghitung keringat
di bawah pohon lontar
Sambil meneguk nira
basahi tenggorokan dahaga
dan menghitung jumlah panah zaman dari pelataran ladang gersang
Langit sanubari tanpa bintang
awan hitam masih menutup pandangan
Sekonyong datang hujan lebat
menutup pintu hari menyambut malam
Kami pulang basah kuyup
bawa tanya memasuki kampung
Ada apa hujan di akhir Juni
karena biasanya usai di akhir April
Dan
anjing melolong dalam gulita
hanya bulan sabit di angkasa
tersenyum bisikan kata ajaib
“Musim sedang pancaroba
Jagat semesta menggugat manusia
yang sombongkan canggih otaknya
Dan
merasa hidupnya tak tergantung alam
bahkan tak butuh Sang Pencipta”
Burung malam pekik merintih
ada bau bangkai merebak
terbawa angin menyebar berita
Tentang budaya korupsi para pejabat
Tentang rusaknya alam lingkungan
Tentang air mata lara rakyat
Tentang sebaran kebencian dan hoaks
Tentang radikalisme dan terorisme
Dan
sekarang menjelang pemilu 2024
para politisi terus berkompetisi
dalam satu energi pemicu
yaitu satu kata yang dasyat
menang, menang, dan menang
Meraih jabatan dan kekuasaan
Rakyat dibius kata janji
biar mabuk serahkan suara
dengan seteguk air dan jajanan
atau lembar uang recehan
Hujan akhir Juni
membasahi gersang dahaga insan
dan senyum bulan sabit
menyibak gulita malam
berikan jawaban tanya insan
Tentang esok dan lusa
apakah masih ada cahaya
apakah masih ada air
Dan
apakah masih ada bintang
untuk terangi gulita nasib
…
Foto Ilustrasi: Istimewa

