| Red-Joss.com | Semalam saya bermimpi bertemu malaikat. Seluruh tubuhnya diliputi cahaya yang berpendar. Wajahnya cerah. Sorot matanya arif bijaksana.
”Ngger,” sapanya lembut. “Apakah kau sudah bersiap diri untuk pulang?”
Saya terperangah. Secepat itukah saya harus menghadap pada-Nya?
Saya mengamati istri yang tengah tertidur lelap, lalu ingat pada anak, usaha, sahabat, … dan semuanya.
Saya menekur; mencoba memutar ulang perjalan hidup saya. Untuk masa depan keluarga saya tidak mengkhawatirkan, karena anak-anak mandiri dan mempunyai rezeki sendiri.
Usaha? Selalu ada masanya dan pasang surutnya. Semua itu hanya titipan. Hutang piutang juga tidak perlu dipikirkan. Hutang usaha itu harus dilunasi. Jika pelanggan yang hutang dan sulit ditagih, ya, lebih baik didoakan dan diikhlaskan agar tidak jadi beban jiwa.
Hubungan saya dengan tetangga juga tidak ada masalah. Jalinan warga komplek yang ramah dan akrab. Bahkan, jika hari raya Natal dan Lebaran, warga saling kunjung mengunjungi. Bersilaturahmi.
Hubungan saya dengan keluarga besar istri juga tidak ada masalah, karena kami dapat menyatukan dua keluarga besar dalam kekerabatan yang erat.
Ya, saya tidak mau mempunyai ganjelan di hati dengan siapa pun. Bahkan sejak lama saya selalu membiasakan diri untuk memohon maaf, jika ada salah maupun khilaf, baik yang saya sengaja atau tidak.
Setiap menjelang tidur saya juga selalu membiasakan untuk refleksi diri mohon ampunan Allah. Tidak lupa saya pun berdoa keluarga, relasi, dan para sahabat agar jiwa ini tanpa beban maupun ganjalan. Jiwa ini senantiasa damai.
Saya memandang malaikat itu dengan takzim dan mantap.
“Ngger, apa kau mempunyai permintaan terakhir?”
“Saya mohon kerahiman Allah agar mengampuni mereka yang berbuat salah, baik yang mengkhianati, memfitnah, dan mendholimi…,” kata saya bergetar. Saya teringat pada firman-Nya, “Berdamailah dengan sesamamu terlebih dahulu, sebelum kau menghadap pada-Ku.”
Saya memejamkan mata. Malaikat itu tersenyum. Tiba-tiba ia raib. Saya terbangun, ketika merasa tubuh saya dipeluk. Kulihat senyum manis istri dalam tidurnya. Damai dan bahagia.
Mata saya berkaca-kaca melafal doa mengucap syukur atas anugerah Allah yang luar biasa. Saya masih diberi kesempatan dan kepercayaan-Nya…
…
Mas Redjo
…
Foto Ilustrasi: Istimewa

