Oleh: Simply da Flores
| Red-Joss.com | Dalam perjalanan sejarah, komunitas masyarakat adat menghadapi tantangan zaman dari modernisasi dan kemajuan Iptek. Hal yang paling tragis, ketika sumber daya alam yang diwarisi dan dikelola komunitas masyarakat adat dibutuhkan negara untuk kepentingan bersama; untuk fasilitas umum, maupun pengembangan dan eksploitasi oleh badan usaha negara.
Dalam perjuangan mempertahankan hak dan kebutuhannya, masyarakat adat selalu kalah dan tak berdaya dengan berbagai variasi kasus di setiap wilayahnya di tanah air ini. Refleksi atas nasib masyarakat adat itu, saya tulis dalam sajak:
Air Mata, Luka dan Darah di Tanah Adat
Pohon-pohon merintih kesakitan
Hutan digundul ditelanjangi
Perut bumi dikoyak berdarah
Tulang belulang leluhur digusur
Demi pembangunan nasional
Atas nama kuasa negara
Dan
masyarakat adat terus menangis
air mata jadi sungai abadi
tak berdaya dan merana
tanya mengalir ke gelombang rahim samudra
Suara lirih masyarakat adat
sirna dihalau deru buldoser
Keberanian menggugat luruh di ujung senjata
Harkat martabat luluh lantak
Suara berdialog bungkam bisu
di hadapan para pihak kewenangan negara, pebisnis dan senjata
serta yang pintar berkata-kata
Arus gelombang zaman terus menerjang
Nasib rakyat seperti pasir pantai
Terus lara dan merana terombang-ambing
Ketika datang sujud mengadu
dalam doa di tempat ibadah
dalam ritual di tempat sakral
Sering pulang dengan kebingungan
karena masalah terus mendera
karena tantangan semakin deras melanda
Dan
Kehidupan semakin terancam
Entah harus berharap ke mana
Entah meminta pertolongan siapa
Mantra sakral seperti hambar
Kesaktian adat seperti bisu
Kearifan leluhur seperti membungkam
Kecerdasan nalar seperti lumpuh
Dan
Nasib jadinya semakin terpuruk dan terlunta
di tanah tumpah darah sendiri
di bumi warisan para leluhur
di alam sakral komunitas adat
Lalu
Menjadi orang kebingungan di tanah lahir
Menjadi merana di tengah alam lingkungan leluhur
Entah sampai kapan berakhir
Air mata, luka dan darah
Terus dibawa berlari mencari
Adakah jalan solusi bijak
dari para pemimpin bangsa
yang adalah saudara sendiri
di negeri tercinta Indonesia
dengan dasar negara Pancasila
di bumi Bhineka Tunggal Ika
tanah berkibar merah putih
…
Foto Ilustrasi: Istimewa

