| Red-Joss.com | Secara pribadi saya menyimpulkan, bahwa masih banyak orang baik di sekitar kita. Tandanya, kita masih saling menyapa, bersilahturahmi, membantu yang kesusahan, kerja bakti, berdonasi, berkunjung ke panti, dan banyak lagi.
Semua tindakan di atas adalah kebaikan bukan? Maka, orang yang melakukannya disebut orang baik. Berbeda dengan pencuri, pembunuh, perampok, atau pelaku kriminal lainnya; mereka disebut orang jahat, karena tindakan mereka yang merugikan orang lain, melawan hukum dan harkat sebagai manusia.
Namun, apabila dipikir-pikir dan ditimbang-timbang lagi, maka akan muncul banyak pertanyaan seperti berikut:
“Apakah seseorang itu benar-benar tulus kala berbuat kebaikan?”
“Apakah orang yang dicap jahat benar-benar tidak punya rasa kemanusiaan?”
“Atau mungkin orang justru menyamar jadi orang baik?”
“Orang yang dianggap jahat itu sebenarnya orang baik yang direkayasa dan tidak diberi kesempatan atau dihalang-halangi untuk menuntaskan kebenaran yang telah dimulainya?”
Mengapa orang baik sering dihambat, direkayasa, disakiti dan disingkirkan?
Mengapa Yesus disingkirkan? Soekarno disingkirkan. Gus Dur disingkirkan. Ahok disingkirkan. Yang baru saja disingkirkan… dr. Terawan.
Masihkah Anda akan terus berbuat baik? Bahkan kalau ada pihak-pihak yang terusik? Merasa terganggu dan tidak senang dengan kebaikan Anda?
Andaikan Anda tetap memilih terus berbuat baik, bahkan setelah tahu ada konsekuensinya, … apa yang mendorong Anda memutuskan untuk tetap menjadi baik dan berbuat yang benar?
“There is nothing so kingly as kindness, and nothing so roll as truth.” Maka tetaplah berpijar, berbagi cahaya, walau ada yang menghalangi. Jika itu terjadi, kebaikanmu teruji.
…
Jlitheng
…
Foto Ilustrasi: Istimewa

