“Penyakit kronis yang berbahaya adalah pikiran negatif.” – Rio, Scj.
…
| Red-Joss.com | Pikiran negatif terhadap diri dan orang lain akan selalu muncul dalam otak kita. Itu realita yang tak terhindarkan. Memelihara, buahnya menderita bahkan lebih menderita dari realitanya. Tapi yang mengurangi dan mengindarinya akan membawa kebahagiaan dan keharmonisan.
Ciri orang yang dikuasai pikiran negatif:
Pertama, “I am not good enough.” Kita merasa tidak berbakat, tidak pintar, tidak mampu, tidak pantas, dan selalu merasa kurang dari yang lain.
Pikiran dan perasaan yang merasa tidak dapat itu melahirkan minder, tidak PD, dan jadi baperan. Lebih baik berhati-hati, untuk merubah dari tidak dapat menjadi kita dapat melakukan itu, dan harus mampu melakukannya.
Sadari, bahwa semua orang itu mempunyai kelemahan, perasaan khawatir, dan ketakutan. Karena itu, jadilah berani. Meski takut dan lemah, tidak berarti menyerah. Meski takut dan punya kekurangan, tapi berani mencoba. Meski gagal, tapi berani bangkit. Bahkan meski salah, kita berani memperbaikinya.
Kedua, menyalahkan. Mencari kesalahan dan terus menyalahkan. Merasa tidak ada yang mau mendukung dan peduli dengan kita. Semua ini salah pimpinan, orangtua, teman, keadaan, dan jutaan alasan untuk menyalahkan.
Berhenti untuk menyalahkan, karena itu ciri pecundang. Jadilah pemenang yang selalu mencari peluang. Pecundang itu selalu menyalahkan, tapi pemenang selalu cari peluang.
Ketiga, prasangka, persepsi dan penilaian negatif. Prasangka selalu ada dalam pikiran dan perasaan kita. Kadang prasangka dan persepsi berguna agar kita berhati-hati. Namun sering kali prasangka dan persepsi itu membuat banyak orang yang tersakiti. Prasangka dan presepsi itu boleh, asal tidak menutup diri dan kehilangan kepercayaan. Ingat otak kita lebih pintar membuat persepsi dan penilaian, tapi hati menimbang dan menjernihkan.
Keempat, baperan alias bawa perasaan. Kalau banyak hal selalu baper, maka hidup kita jauh dari bahagia. Sebaliknya asam lambung kita naik, maag kronis, vertigo, badan kurus kering, dan menderita. Lebih baik ubah baper: dari bawa perasaan menjadi ‘baper’ alias bawa permenungan.
Pikiran negatif ini bagaikan pencuri yang kita pelihara dalam rumah. Tiap malam selalu mencuri barang berharga yang ada di rumah kita. Tanpa kita sadari sudah berapa banyak kebahagiaan, senyuman, sukacita, kasih, pengampunan, kesempatan dan ketentraman yang sudah dicuri dari hidup kita.
Tidak ada gunanya memelihara pencuri itu. Segera buanglah jauh, dan bahagia!
Deo gratias.
…
Edo/Rio, Scj.
…
Foto Ilustrasi: Istimewa

