Oleh Simply da Flores
| Red-Joss.com | Melalui media sosial zaman now, ada banyak grup yang dibuat berdasarkan kesamaan asal usul adat budaya. Ada juga grup yang peduli adat budaya leluhur di Nusantara. Hampir semua adat budaya di Nusantara, mewarisi tradisi lisan, ‘oral tradition’. Semua aspek adat budaya dihidupi dalam bahasa dan simbol, namun tidak ada sistem tulisan atau huruf dan buku. Perbedaan berlawanan dengan tradisi tulis, ‘literer tradition’. Kisah cerita, bahasa dan syair adat budaya, simbol dan ritual, hukum adat dan religi, serta semua aspek kehidupan lainnya dihidupi dan diwariskan secara lisan.
Mengingat pengalaman di kampung asal saya, ada penjelasan yang menarik, bahwa semuanya ada sejak zaman leluhur nenek moyang. Itulah jawaban yang sering saya dapatkan, ketika bertanya tentang hal adat budaya, khususnya sastra adat yang indah dan penuh makna. Jarang terdengar nama tokoh, seperti nama nabi atau orang suci dalam agama, yang menerima wahyu atau penulis dan pengarang sastra lisan adat budaya. Selalu saya temukan tanpa nama dari para leluhur komunitas adat budaya. Ada beberapa penutur dan pengguna sastra lisan ritual, tetapi selalu menegaskan, “kami hanya melakukan dan semua ini tradisi leluhur, kami bukan pengarang, juga bukan pemberi tafsiran makna bahasa tersebut.”
Ketika coba menelusuri fakta, ada dua hal menarik bagi saya. Pertama, dari khasanah sastra bahasa adat budaya, isinya sangat kaya dan indah. Ada ajaran moral, hukum, kisah asal usul suku, kisah penciptaan, mantra ritual dan religiositas, ilmu pengetahuan berbagai bidang serta kesenian. Urusan pribadi manusia, relasi sosial, relasi dengan alam lingkungan, kematian dan Sang Empunya alam semesta. Sungguh indah, kaya makna dan istimewa.
Kedua, dari fakta sejarah, bahwa komunitas adat budaya, khusus para pemangku adatnya dan penutur sastra lisan yang dijumpai, tidak mengalami sekolah formal. Tidak ada juga semacam tradisi pendidikan perguruan komunitas. Apalagi generasi yang lalu masih sangat terbatas relasi dengan budaya luar. Transportasi masih sulit, hubungan dengan komunitas suku adat budaya lain sangat terbatas. Pertanyaannya, dari mana sumber tradisi lisan, khususnya bahasa dan sastra adat, termasuk mantra dan ritual adat didapatkan?
Kembali kepada masing-masing komunitas adat budaya, baik para pemangku adat, penutur maupun generasi muda pewaris di setiap komunitas adat, sejauh mana mau menjaga dan mewariskan untuk melestarikan. Salah satu peluang adalah dengan menuliskan dalam buku dan mendokumentasikan secara audio visual.
Satu kecemasan adalah banyak pemangku adat, pelaku ritual dan penutur sastra lisan sudah berumur lanjut atau meninggal, sehingga semakin kehilangan nara sumber. Maka, khasanah sastra lisan dari tradisi lisan bisa hilang dan punah. Apakah komunitas adat budaya pewaris masih bangga dan mencintai warisan ayat budaya, karena masih membutuhkan dan mendapatkan manfaatnya sebagai identitas diri dan komunitas?
…
Foto Ilustrasi: Istimewa

