Oleh: Simply da Flores
| Red-Joss.com | Menjelang pemilu 2024, suasana politik di negeri ini semakin memanas. Ada proses suksesi kepemimpinan pada jabatan eksekutif dan juga legislatif. Para politisi dan parpol semakin gencar mengadu informasi dan strategi merebut kekuasaan, sedangkan rakyat semakin bingung menggunakan haknya untuk memilih. Semuanya akan makin memanas hingga saat pemilu dan apa hasilnya belum tahu. Saya mencatat fenomen ini dalam sajak:
Gelombang Samudra Doa Politik
Angin berhembus dari delapan penjuru
membawa warna warni bendera Parpol
Kemarin sepoi terasa
Sekarang semakin kencang bertiup
menghempas wajah anak-anak negeri
Kenyangkan mata segenap bangsa
dengan susu dan madu kata
Lalu
Fakta derita lara terhalau
Sakit, haus dan lapar
diobati dan dikenyangkan dengan cerita tentang surga
Anak-anak bermain di sungai
berlari mengejar tikus dan kodok
Para generasi muda berpesta pora di dunia maya
Para orangtua belajar bermain Lato-Lato
agar tidak kalah dari bocah-bocah
Dan
menjelang senja hari semua berbaris
berarak ke pesisir pantai samudra
Menonton ombak gelombang
sambil bacakan ayat-ayat doa
“Semoga kami diberikan pemimpin yang adil dan bijaksana
Semoga negara kami kuat dan jaya
Semoga kami sejahtera gemah ripah loh jinawi
di bawah panji merah putih
dan Garuda Pancasila sakti”
Dari langit angkasa Nusantara
dihamburkan warna-warni kata janji
diiringi gemerlap kembang api
agar penuhi selera dan nalar rakyat
Lalu
parfum narkoba dan korupsi disiramkan
pada ruang sanubari anak negeri
Hukum dijadikan rantai pengikat pikiran dan nurani rakyat
Agar rakyat terbius dan mabuk kepayang
Sedangkan mantra doa politik
dituangkan memenuhi samudra hukum
Agar segera menerjang menghempas ke pasir pantai
ratakan nasib rakyat seperti pasir
Karena hak dan kedaulatan rakyat
sudah bisa dibeli dan diambil alih Negara
atas nama pembangunan bangsa
Hanya ada satu kata doa politik
“Menang, menang, menang”
Antara gelombang samudra kuasa dan pasir pantai harkat
hanya ada kata kepentingan
Antara hutan belantara aturan dan angkasa martabat manusia
hanya ada paradoks kata dan fakta
Antara kepentingan para politisi dan nasib hak rakyat
hanya ada satu kata
“Menang, menang, dan menang”
Lalu terus ada dan terjadi
Pasir tak dapat hentikan ombak gelombang
Bocah-bocah tak mampu melukis pelangi
Rakyat yang tak berdaya
tak bisa membangun rumah di awan
Karena oksigen untuk paru-paru
telah diganti dengan kata “Menang”
dan korupsi sudah menjadi agama
Hawa nafsu ego sudah menjadi Tuhan
…
Foto Ilustrasi: Istimewa

