Oleh Simply da Flores
| Red-Joss.com | Dalam kesibukan harian ada banyak perjumpaan entah direncanakan maupun secara kebetulan. Perjumpaan memang hal kodrati manusia sebagai makhluk sosial. Ada banyak ungkapan tentang pengalaman perjumpaan itu. Misalnya, “No man is a island,” tidak ada yang hidup sendiri di sebuah pulau. Aku ada karena kita ada waktu. Homo homini socius – manusia adalah makluk sosial.
Perjumpaan terjadi, karena memang setiap pribadi berasal dari orang lain, hidup bersama dan dari orang lain, serta terlahir untuk orang lain, sesama saudara. Kita sama kodratnya, hidup menghirup udara yang sama di alam ini, dengan warna darah manusia yang sama.
Ada banyak alasan perjumpaan secara prakmatis, yakni karena ada kebutuhan dan kepentingan dari berbagai dimensi dalam pribadi kita. Kita berjumpa dengan orang lain demi sebuah keperluan untuk merajut warna-warni kehidupan ini.
Dalam kehidupan di tengah keluarga, komunitas adat budaya, kelompok agama, ekonomi dan politik, serta masyarakat umum, sering terjadi napak tilas berdasarkan hubungan darah. Usaha menelusuri hubungan darah dari keluarga orangtua, kakek nenek dan leluhur suku bangsa. Ikatannya adalah perkawinan, di mana relasi darah mengalir. Wana warni ritual dan simbol diwariskan dalam relasi darah tersebut, dan ada dalam tradisi adat budaya.
Ada dinamika makna dan kualitas relasi darah tersebut, dalam perjalanan peradaban hingga zaman digital milenial ini. Semuanya khas bagi setiap pribadi, keluarga, suku, komunitas adat budaya dan bangsa. Sumbernya adalah seberapa penting dialami dan dihayati relasi darah tersebut; baik karena kebutuhan pribadi maupun dukungan sosial komunitas. Ada aspek kekhasan individu dan sekaligus sisi sosial dalam relasi darah, sebagai fakta kodrati dan berkah Sang Empunya.
…
Foto Ilustrasi: Istimewa

