| Red-Joss.com | Tabah sampai akhir adalah cerminan sebuah proses keputusan yang dilandasi dengan pertimbangan yang cermat. Cermin sebuah langkah yang dirancang dengan hati-hati, penuh perhitungan, sehingga kecil kemungkinan melahirkan dalih-dalih yang membenarkan seseorang melakukan kesalahan.
Jika tanggung jawab hidup seseorang dapat diganti nama dengan ‘salib’ maka setiap orang sejak dilahirkan telah memiliki dan memikul salib masing-masing.
Bagi orang beriman, salib memiliki arti ganda, yaitu:
(1) beban untuk dipikul dan
(2) jembatan penyeberang menuju hidup baru.
Tak ada jembatan lain selain salib itu. Maka janganlah kau potong, sebagian ataupun seluruhnya. *Panggulah dengan tabah – utuh sampai akhir.
Tak dapat disangkal, bahwa di zaman ini, fenomena potong salib tampil makin mencemaskan :
- Sebagian anak muda tampak begitu lelah, lantas meletakkan salibnya dengan keyakinan bahwa hidupnya akan lebih ringan.
- Tak sedikit orangtua yang terkesiap baru sadar, ketika anaknya memutuskan ganti arah jalan.
- Banyak pejabat pelayanan yang tanpa sengaja bergelut dengan dalih antara ingin melayani sepenuh hati dan melayani sekenanya, karena imbas himpitan beban kebutuhan keluarga. Mana mungkin karung kosong mampu berdiri tegak.
Seumpama bebanmu terasa berat, kau bisa minta tolong. Tapi jangan kau potong salibmu. Peduli itu tabah berjalan sampai akhir.
Adalah Derek Redmond, pelari tercepat asal Inggris pada lomba lari 400 m putra di Olimpiade 1992, bertekad tetap berlari sampai finis dengan cedera berat di kaki, deraian air mata dan rasa sakit yang tak terkira.
Jim Redmond, pelatih dan Ayah, berlari menghampiri dan berkata: “Kau tak harus melakukan ini, Nak .”
“Tidak Ayah, saya ingin menyelesaikan perlombaan ini,” ujarnya.
“Baiklah jika itu maumu. Kita akan sampai finis bersama,” ujar Jim sambil menemani anaknya menyentuh garis finis.
Beberapa langkah sebelum garis finis, Jim melepaskan rangkulannya. Dia biarkan Redmond memenuhi mimpinya.
Ketika Redmond menyentuh garis finis, 65 ribu penonton yang memadati stadion memberinya ‘standing applaus’. Mereka tahu Redmond bukan juara tetapi dia telah menjadi inspirasi untuk tabah sampai akhir.
Jim, adalah sosok Ayah dengan kadar kepedulian sangat tinggi, mengatasi rasa kecewa oleh kegagalan anaknya. Jim tetap seorang Ayah yang dekat dan merangkul anaknya sampai akhir. Salibnya tidak dipotong.
Mungkin saja anak kita gagal memutuskan jalan hidupnya. Mungkin saja seperti Jim, kita gagal melatih anak memenuhi harapan kita. Mungkin saja sebagai gembala kita kurang berhasil memenuhi janji dalam melayani sesama.
Jika saat itu terjadi, ingatlah kisah Redmond dan Jim. Tabah sampai finis.
“Aku adalah jalan, kebenaran dan hidup. Yang percaya pada-Ku akan hidup selamanya.”
Tabah berbagi cahaya sampai akhir.
…
Jlitheng
…
Foto Ilustrasi: Istimewa

