Oleh Simply da Flores
| Red-Joss.com | Pesta di kampung, entah sehubungan dengan adat budaya, ritual keagamaan atau kepentingan lain seperti ulang tahun dan syukuran keberhasilan, adalah kejadian yang terus berulang, bahkan semakin semarak. Gaya pesta pun semakin bervariasi, dengan model warna-warni tenda, menu makanan dan dentuman musik daerah maupun modern. Jelas, semuanya memerlukan biaya yang dikeluarkan oleh tuan pesta. Lalu, ada banyak penilaian dan komentar tentang pesta dengan aneka pendapat.
Setelah mengikuti berbagai pesta dan mendengar sharing para pelaku pesta di kampung, saya berkesimpulan sebagai berikut. Pada sisi pihak yang menilai dan berkomentar, benar adanya sebagai bentuk kepedulian sosial. Ada hak berpendapat, namun perlu juga secara obyektif mendengar kepentingan pelaku pesta. Kesan pengamat, kajian akademik dan pendapat moral bisa saja diberikan.
Di pihak para penyelenggara pesta, saya coba merumuskan dengan definisi, bahwa pesta adalah perayaan pembebasan sosial – “social liberation ceremony.” Pelaku pesta menyatakan diri, bahwa saya atau kami ada, di tengah komunitas dan sesama saudara lainnya. Pelaku pesta merayakan berbagai dimensi pembebasan diri dari berbagai beban moril, utang sosial, utang spiritual, juga utang psikologis dan ekonomis di tengah sesamanya.
Penegasan bahwa saya ada atau keluargaku ada di tengah sesama komunitas dan sahabat kenalan, diyakini sungguh sangat penting bagi tuan pesta. Maka, meski utang pun jadilah pesta dilakukan. Pada momen pesta ini pun dialami, bahwa sesama saudara lain pun datang melakukan pembebasan sosial, hadir ikut merayakan pembebasan dirinya.
Bahkan ditenggarai, dalam pesta terkandung adanya sebuah ungkapan syukur kepada para leluhur dan Sang Pencipta. Terlihat bahwa dalam momen penyelenggaraan pesta, selalu ada doa secara agama dan ritual adat budaya. Ada makna pembebasan, penebusan dan penegasan eksistensi diri di tengah sesama dan alam semesta serta Sang Pencipta. Ada dimensi spiritual dalam pelaksanaan pesta.
Memang, jika secara kajian ekonomis, maka banyak unsur pesta menghabiskan biaya. Apalagi jika dikaitkan dengan kehidupan sosial harian pelaku pesta, kebutuhan pendidikan anak, serta akibat ekonomi pesta bagi kelanjutan ekonomi rumah tangganya. Tetapi, sungguh perlu dipahami, bahwa pelaku pesta tidak buta paham tentang untung rugi dan prinsip ekonomi. Pertanyaannya, mengapa pesta dilakukan, meskipun mungkin pelaku dianggap orang miskin secara ekonomi. Salah satu alternatif jawabannya, bahwa pesta adalah perayaan pembebasan sosial, dengan integrasi multi aspek pribadi manusia; baik pelaku pesta maupun yang diundang menghadiri pesta.
…
Foto Ilustrasi: Istimewa

