Oleh Simply da Flores
| Red-Joss.com | Hampir semua keluarga di kampung pernah menyelenggarakan pesta, dan sekaligus menghadiri pesta keluarga lainnya. Ada pesta adat budaya, pesta keagamaan, serta pesta sosial lainnya. Misalnya pesta peresmian rumah adat, pesta perkawinan dan pesta ulang tahun. Dari pengalaman beberapa tahun terakhir, suasana pesta makin semarak, karena ada aneka makanan, hiasan tenda warna warni dan musik seperti di tempat hiburan kota. Berbagai faktor pendukung seperti kemajuan informasi dan sarana modern, juga perubahan kepentingan dan pola pikir serta nilai kehidupan.
Dalam konteks kampung dan komunitas adat budaya, ketika ada pesta tersebut, yang sibuk bukan saja penyelenggara pesta, melainkan hampir semua unsur masyarakat. Hal ini karena relasi sosial kekerabatan masih sangat kuat, ada banyak kepentingan tersangkut di dalam pesta tersebut. Para tokoh sosial budaya dan pemerintah, pihak profesional dan pelaku usaha terlibat secara langsung maupun tak langsung dalam pesta. Biasanya penyelenggara pesta mengundang hampir seluruh relasi adat budaya, kerabat kerja dan para pihak yang berkepentingan.
Ada diskusi dan semacam gugatan, mengapa secara ekonomi terlihat terjadi pemborosan dari keluarga, yang nota bene disebut miskin, namun pesta terus dilakukan. Mengapa pesta dibuat, meskipun orang berhutang. Jawabannya bervariasi, dengan perspektif serta kepentingan setiap pribadi dan pihak. Semua pihak yang terkait tentang pesta itu bisa memberikan alasannya, namun hemat saya, yang paling tahu jawabannya adalah setiap penyelenggara pesta. Ada nilai dan kepentingan yang mau diperoleh, sehingga meski berhutang pun dia mau mengadakan pesta.
Karena pernah merantau di kota metropolitan, maka ada satu situasi yang menarik bagi saya. Soal ornamen di tempat pesta dan dentuman musik seperti di diskotik. Ada lampu disko dan asap buatan, aneka jenis musik pesta, serta berbagai sound system yang mirip dengan pentasan musik para artis dunia. Sarana transportasi, listrik dan media digital semakin mendukung. Yang sering terjadi di kampung adalah penyelenggara pesta “seolah-olah takut dan tunduk” pada opreter musik, padahal umumnya mereka sewa untuk meramaikan pesta. Maka, tempat pesta semacam menjadi ajang pertemuan opreter musik dan para penggemarnya.
Lalu, soal aturan dari pihak pemerintah setempat, ternyata bervariasi soal jaminan terhadap kepentingan umum sehubungan dengan pesta. Dalam banyak komunitas kampung, waktu pesta dan soal volume musik keras sepertinya belum ada ketentuan, atau ada ketentuan namun belum dipatuhi. Pihak keamanan biasanya dilibatkan untuk menjaga, hadir di tempat pesta, namun perannya terbatas. Keculai, jika terjadi kasus keributan oleh peserta pesta yang mungkin karena mabuk alkohol.
Semarak pesta di kampung-kampung sepertinya dilematis. Ada banyak kepentingan dan nilai bertemu dalam pesta, ada dinamika fenomena yang semakin berkembang, serta hampir semua pihak terlibat dalam semarak pesta. Maka, pesta tidak saja ditelisik dari soal ekonomi, melainkan lebih bijaksana dilihat secara menyeluruh sebagai fenomena zaman. Mengapa pesta begitu semarak di kampung-kampung zaman now. Apakah ini perubahan zaman, kemajuan peradaban dan pergantian prinsip dan nilai kehidupan. Masing-masing pribadi yang berkompeten untuk menjawab secara obyektif, dalam dinamikaย semarakย pesta.
…
Foto Ilustrasi: Istimewa

