Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
“Bagi orang yang tercerahkan, kesadaran akan kemalangan dan kematian memberikan kemanisan dalam hidup.”
(Anthony de Mello)
…
| Red-Joss.com | Kita sering bereaksi sangat keras lewat sikap mengutuk/mengumpat saat mendengar kabar atau pun membaca berita, bahwa ada orang yang nekad “membunuh diri.”
“Aneh, betapa kerdilnya si pengecut ini. Dikiranya, hanya dia yang didera derita di atas bumi ini. Cengeng,” umpat teman dekat kita.
Ada juga umpatan-umpatan lain yang bernada serupa. Tapi di balik tindakan sadis itu, biasanya orang segera membayangkan, bahwa tindakan senekad itu diambil saat orang tidak mampu lagi berpikir rasional. Dia merasa sudah tidak mampu lagi memikul beban hidupnya.
Ada kisah Budhis menarik yang dapat diambil hikmahnya, parabel seperti yang diceritakan oleh Sang Budha.
Alkisah seorang pria mengembara di hutan rimba dan berpapasan dengan seekor harimau lapar. Pria itu pun segera mengambil langkah seribu. Tapi ternyata di depannya ada jurang yang menganga lebar.
Tak kehabisan akal, pria itu lalu bergelantungan di tepi jurang. Tapi harimau itu tetap menunggunya di atas. Saat ia melirik ke jurang, betapa ia kaget dan semakin ketakutan, karena di dasar jurang itu juga ada harimau yang sedang memandang ke arahnya.
Kini, tampak pula dua ekor tikus pengerat yang menggerogoti akar kayu pegangannya. Di saat hampir kehilangan harapan, ia melihat buah stroberi ranum di dekatnya.
Dengan sebelah tangan, dipetiknya stroberi ranum itu dan dimasukkan ke dalam mulutnya.
“Ah, Gusti Allah, betapa manis rasanya!”
(Berguru pada Saru, Hamdan Hamedan).
Sesungguhnya di saat genting atau kritis itu selalu ada harapan. Di mana-mana ada uluran tangan kasih Tuhan. Menurut petuah kebijaksanaan, justru di saat paling genting merana itulah, di sana senantiasa ada sejumput uluran tangan. Karena mungkin, Anda dan saya, justru kehabisan harapan. Sehingga tidak sanggup untuk melihat hal itu.
Ketika hanya ada setitik asa kecil di dada, di sana justru bergelantungan stroberi ranum nan segar itu.
Kita ibarat makhluk ‘berhati tikusโ. Ibarat tikus basah, kita sudah duluan kehabisan akal harapan. Kita telah kehabisan narwastu iman serta pengharapan. Kita telah telanjur berputus asa.
Padahal, Tuhan senantiasa mengulurkan seutas tali pengharapan, tepat di bawah bola mata kesadaran iman kita.
“Ya Tuhanku, ternyata seutas tali kasih setia-Mu, menyertaiku sepanjang hayatku!”
…
Kediri,ย 12ย Juniย 2023

