Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
| Red-Joss.com | Setiap pagi, di setiap hari, saat sinar lembut mentari datang menyambangi bumi, bersama paduan kokok dan kotek ayam, kita akan mendengar ucapan, “Selamat pagi.”
Hari ini adalah sebuah hari baru. Hari ini adalah hari ini, bukan lagi hari kemarin, juga bukan hari esok.
Setiap pagi, saat sang lembut mentari datang lagi, adalah sebuah hari baru yang bernama hari ini.
Hari ini adalah Rahmat Sang Tuhan yang mengalir gratis, seperti hari kemarin. Begitu pula anugerah-Nya untuk hari esok.
Bukankah, rahmat dan kasih ajaib-Mu itu akan langgeng, serta kekal? Untuk hari ini, Engkau juga tidak pernah mengingkari janji setia-Mu.
Seutas doa pagi terucap lantang mengalir dari bibir sang penjaga fajar, “Tuhan, aku bersyukur kepada-Mu, bersama terbitnya sang mentari baru dari balik bukit sunyi itu. Aku juga bersyukur kepada-Mu, untuk nafas hidupku yang masih boleh aku tarik dan hembuskan. Tuhan, jagalah aku dan isi semesta ini, hari ini. Semoga, nafas hidupku ini, boleh terus kutarik serta kuhembuskan, seirama cinta serta harapanku kepada-Mu di hari ini. Amen.”
Sesungguhnya, setiap hari baru adalah sebuah hadiah paling istimewa untuk kita. Mengapa? Pertama, hari ini, ternyata kita masih hidup, bergerak, dan ada. Kedua, karena kita sungguh yakin, bahwa cinta Tuhan akan tetap kita terima hari ini.
Apa yang masih kurang? Apa yang kita rasakan sebagai tindakan yang tidak adil dan tidak baik? Apa yang menyebabkan kita, Anda dan saya, sangat sulit untuk mengatakan, “Tuhan, terima kasih atas hari baru ini!”
Semoga, kita senantiasa sadar dan tahu bersyukur atas hadirnya nafas hidup ini, setiap hari.
…
Kediri, 11 Juni 2023
…
Foto Ilustrasi: Istimewa

