Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
| Red-Joss.com | Saudara, sangat sering kita mendengar lewat ‘kata, frase, kalimat, atau pun puisi serta lagu yang mendendangkan hal, kemolekan, keindahan, fungsi, serta kehebatan benda-benda langit, matahari, bulan, dan bintang.’
Tentang bagaimana dan apa itu, “bintang atau yang sering disebut, sang gemintang,” ternyata, banyak orang yang mengaguminya.
Rangkaian ucapan atau pun tulisan berikut, dapat mewakili kebenaran itu.
“Semoga, kamu dapat menjadi bintang.”
“Kamulah, sang bintang penunjuk jalan.”
“Inilah, sang bintang kelas kita.”
“Inilah bintang radio kita.”
Apa makna dan arti dari sejumlah ucapan atau tulisan itu? Tentu, di sana, terselip makna serta esensinya. ‘Nomen est omen,’ kata orang Latin, ‘sebuah nama memiliki maknaโ.
Bintang, atau dalam bahasa bersayap sang gemintang, secara denotatif, memang bermakna, planet atau benda langit yang berkedip bercahaya benderang menghiasi gulita angkasa atau lelangit malam.
Tidak sedikit umat manusia, lewat ilmu astronomi, yang telah menjadikan bintang sebagai pertanda alam atau fenomena alam tertentu. Bahkan, ada keyakinan tertentu, menyimbolkan bintang sebagai penunjuk jalan atau arah hidup bagi sang manusia.
Dalam konteks tertentu, sang bintang, tidak saja dimaknakan sebagai benda langit bercahaya berkedip, namun lebih mengarah pada makna filosofi serta religi.
Lewat tulisan ini, kita diajak untuk menarik suatu ‘makna privilese’ dari sisi keunggulan benda alam berkedip itu. Jadikan dia, sebagai kata atau ungkapan yang dapat mensuport sesama di dalam hidup.
Para orangtua di rumah, para guru dan dosen di sekolah dan kampus, para pemimpin agama, via mimbar keagamaan, dapat membangun spirit kerohanian sesama.
Semoga Anda semua dapat menjadi bintang-bintang, sang penerang lelangit kehidupan itu!
…
Kediri,ย 10ย Juniย 2023

