| Red-Joss.com | Kita tentu pernah terlambat. Baik ke sekolah, kerja, pesta, atau terlambat beribadah.
Ketika terlambat, perasaan kita jadi tidak enak. Apalagi menjadi sorotan banyak orang, kita merasa ‘salting’ dan malu hati.
Sesekali terlambat itu wajar, asal tidak dijadikan alasan pembenaran diri, untuk diulangi, dan diulangi lagi. Sehingga jadi kebiasaan buruk.
Sesungguhnya, jika kita tidak ingin datang terlambat, kita berangkat lebih cepat agar datang lebih awal.
Begitu pula dalam dunia usaha. Terlambat bayar hutang itu hal biasa, asal tidak digunakan sebagai kebiasaan, karena hal itu akan mempersulit usaha sendiri.
Bagaimana tidak. Sering terlambat bayar hutang ke suplayer berarti kita juga siap dipersulit untuk memperoleh barang dagangan, atau bisa jadi diputus hubungan.
Padahal, hutang itu cepat – lambat harus dilunasi. Karena hutang itu beban moril, dan berat.
Seperti yang belum lama ini terjadi. Seorang anak muda, MI datang ke toko untuk membayar hutang Ayahnya yang meninggal dunia.
Ketika Ayahnya terkena serangan stroke yang kedua kali, dan parah, Ibunya mengingatkan pada Ayah akan tanggungan hutang yang harus diberesi. Jikapun meninggal dunia, supaya arwah Ayahnya damai di alam baka.
Etikat dan maksud baik kedatangan MI untuk melunasi hutang Ayahnya itu membuat saya menghargai dan salut padanya.
Ternyata soal hutang piutang yang biasa disepelekan banyak orang itu miliki dampak besar bagi arwah orang yang meninggal agar tenang di alam baka. Kendatipun, saya rela, ikhlas, dan mendoakan mereka. Karena mereka juga harus lebih dulu mempertanggung jawabkan hutang itu.
Saya lalu teringat akan nasihat Guru Agung, “Bahwa untuk peroleh kedamaian bagi jiwa orang yang meninggal dunia itu harus berdamai lebih dulu dengan saudaranya.”
Intinya, saya, kau, dan kita semua berani untuk saling meminta dan memberi maaf atau ampunan pada sesama. Hidup saling mengasihi satu dengan yang lain.
Selagi ada waktu, kesempatan, dan mumpung belum terlambat. Saya harus berdamai dengan sesama dan diri sendiri.
Saling memaafkan dan mengampuni, karena Allah murah hati.
…
Mas Redjo

